Paradoks Visibilitas Politisi di Tengah Bencana

2026-01-12 06:42:04
Paradoks Visibilitas Politisi di Tengah Bencana
DALAM ekosistem demokrasi modern, para praktisi yang membersamai politisi—mulai dari tenaga ahli, konsultan strategi, hingga tim media—menghadapi medan magnet yang unik.Mereka sering kali berhadapan dengan tantangan teknis dan dilema etis yang jauh lebih pelik dibandingkan apa yang dihadapi oleh entitas korporasi atau lembaga non-pemerintah.Puncak dari dilema ini sering kali terjadi pada saat krisis kemanusiaan atau bencana alam melanda.Situasi bencana menciptakan panggung dramatis di mana setiap gerak-gerik politisi diamati di bawah mikroskop publik.Di sinilah muncul paradoks visibilitas yang kejam. Jika seorang aktor politik tidak terlihat di lokasi bencana, ia akan segera "diabsen" oleh publik.Absensi ini diterjemahkan sebagai ketidakpedulian, apatisme, dan kegagalan dalam membersamai konstituen yang sedang menderita.Namun, ketika sang politisi memutuskan untuk hadir, risiko tidak serta-merta hilang. Kehadiran yang terlalu mencolok justru memicu tuduhan sebaliknya: pencitraan, politisasi penderitaan, atau upaya narsisistik memanfaatkan duka orang lain demi keuntungan elektoral.Baca juga: Kiamat Pencitraan: Warganet Kini Vs Pemimpin Tipu-tipuKedua kutub ini, absen dan pencitraan berada dalam satu spektrum risiko reputasi yang sama mematikannya. Lantas, bagaimana menavigasi jebakan ini?Dalam kajian komunikasi, posisi terjepit yang dialami politisi ini sering diasosiasikan dengan konsep Double-Bind atau ikatan ganda, situasi di mana subjek dianggap salah jika melakukan sesuatu, tapi juga salah jika tidak melakukannya.Tantangan ini menjadi eksklusif bagi politisi karena sifat dari "produk" yang mereka tawarkan. Berbeda dengan korporasi yang dapat menunaikan tanggung jawab sosial (CSR) melalui transfer dana atau pengiriman logistik tanpa kehadiran fisik CEO, politisi adalah representasi hidup dari institusinya.Dalam politik, kehadiran fisik (presence) adalah mata uang kepercayaan. Rakyat ingin melihat pemimpinnya "ada".Namun, kehadiran fisik ini membawa serta kru dokumentasi dan agenda publikasi, yang jika tidak dikelola dengan kepekaan etika tingkat tinggi, akan menjadi bumerang yang menghancurkan kredibilitas.Untuk keluar dari jebakan Double-Bind tersebut, para perancang strategi komunikasi harus memahami hubungan dialektis antara dua elemen kunci: Kesan dan Pesan."Kesan" adalah manifestasi dari substansi atau aksi nyata di lapangan. Ini tentang sepatu bot yang berlumpur karena benar-benar turun ke area terdampak, logistik yang dipastikan sampai ke tangan pengungsi, serta advokasi kebijakan yang mempercepat proses tanggap darurat. Kesan adalah tentang "kerja".Sementara itu, "Pesan" tentang bagaimana aksi tersebut dibingkai, didokumentasikan, dan didistribusikan ke ruang publik. Ini tentang "kata" dan “rupa”.


(prf/ega)