- Rasa jenuh dan kekhawatiran mulai menyelimuti para penyintas banjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.Hingga lebih dari tiga pekan pascabencana, ratusan warga masih bertahan di posko pengungsian, salah satunya di Masjid Al-Musanif Syariful Hasanah, Kelurahan Sibuluan Raya, Kecamatan Pandan.Para penyintas terpaksa tetap mengungsi karena rumah mereka belum bisa ditempati. Lumpur tebal masih memenuhi permukiman, sementara akses air bersih dan listrik belum sepenuhnya pulih.Kekhawatiran warga meningkat karena selama 22 hari atau lebih dari tiga minggu, bantuan logistik yang diterima sebagian besar hanya berupa mi instan, tanpa asupan sayur maupun protein.“Tiga minggu ini pagi, siang, malam ya makan Indomie saja. Tanpa telur. Kalau ada nasi, kita makan pakai nasi,” ujar Syarifah Dewi Panjaitan (33), salah satu penyintas banjir, kepada Tribun Medan, Rabu .Ia mengaku pasrah melihat anaknya harus terus-menerus menyantap mi instan demi bertahan hidup di pengungsian. Menurut Syarifah, stok beras bantuan kini mulai menipis, bahkan beberapa hari terakhir posko mereka tidak menerima bantuan sama sekali.“Mau gimana lagi, harus disyukuri. Bantuan yang datang ya Indomie berkardus-kardus, itulah yang kami olah sampai sekarang,” katanya.Baca juga: Kisah Arman Zebua, Selamatkan 52 Nyawa dari Jebakan Longsor-Banjir di Hutan Tapanuli TengahAkibat pola makan yang minim gizi, sejumlah penyintas mulai mengalami gangguan kesehatan.“Anak-anak mulai gatal-gatal. Kami pun mulai diare,” ujar Syarifah.Kondisi tersebut diperparah dengan belum pulihnya pasokan air bersih. Warga belum bisa membersihkan rumah dari lumpur karena air belum mengalir.“Kami mau bersihkan rumah juga belum bisa, air belum hidup. Padahal bersihkan lumpur itu harus pakai air,” jelas warga Jalan AR Surbakti, Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan tersebut.Selain kebutuhan pangan, Syarifah juga kesulitan memenuhi kebutuhan popok anaknya setelah kondisi ekonomi keluarga terpuruk.“Kalau ada yang ngasih bantuan popok bayi, senang rasanya. Walaupun kadang ukuran enggak pas. Usaha es saya hancur karena banjir, suami juga belum kerja di gudang ikan karena enggak ada ikan masuk,” katanya.Baca juga: Update Pencarian Korban Banjir Tapanuli Tengah: 45 Masih Hilang, Banyak Jalan Desa PutusDokumentasi pribadi Bina Tumpukan kayu dan lumpur terlihat masih menutup jalan di Lingkungan I, Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa .Menurut Syarifah, bantuan logistik dari pemerintah dinilai belum merata. Ia menyebut bantuan lebih banyak terpusat di Posko Pengungsian GOR Pandan.“Bantuan dari pemerintah hanya dibagikan di GOR Pandan, sementara kami di sini kadang tidak dapat,” ujarnya.
(prf/ega)
3 Pekan Mengungsi, Penyintas Banjir Tapanuli Tengah Hanya Makan Mi Instan, Penyakit Mulai Bermunculan
2026-01-13 05:53:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-13 06:19
| 2026-01-13 06:19
| 2026-01-13 06:00
| 2026-01-13 05:55
| 2026-01-13 04:45










































