Indonesia Dianggap Kena Jebakan di KTT COP30 karena Jual Karbon Murah

2026-01-16 05:01:58
Indonesia Dianggap Kena Jebakan di KTT COP30 karena Jual Karbon Murah
JAKARTA, - Indonesia membuka terlalu banyak sesi pasar karbon selama perhelatan Konferensi Iklim ke-30 (KTT COP30) di Brasil.Namun, skema perdagangan karbon yang ditawarkan Indonesia tidak menyertakan persyaratan tata kelola yang jelas. Apalagi, hingga saat ini, belum ada perlindungan hukum dan pengakuan atas hak-hak masyarakat adat yang akan terbebani dengan skema perdagangan karbon ke depannya."Salah satu pembahasan dalam COP30, lahan (hutan) adat yang diakui sebenarnya menjadi syarat material sebagai dasar produksi dalam sistem perekonomian masyarakat adat. Sampai saat ini, itu belum ada mekanismenya di Indonesia atau diakui setidaknya secara terstruktur dan legal," ujar Direktur Socio-Bioeconomy Celios, Fiorentina Refani di Jakarta, Selasa .Baca juga: CELIOS: RI Terlalu Jualan Hutan dan Laut di KTT COP30Dalam satu dekade terakhir, Indonesia mengkhianati amanat Reformasi 1998 untuk desentralisasi kekuasaan dan justru bergerak ke arah resentralisasi kebijakan.Di dalam konteks skema perdagangan karbon, segala keputusan berada di tangan pemerintah pusat. Sedangkan pemerintah daerah yang diberikan beban berganda, menjadi korban dari skema perdagangan karbon."(Di tengah pemangkasan anggaran dan pemangkasan kebijakan pemerintah daerah, (keberadaan) pasar karbon sebenarnya menjadi momentum untuk mendukung masyarakat yang bekerja atau terintegrasi lebih erat dengan pemerintah daerah," tutur Fiorentina.Selain itu, membangun ekosistem perdagangan karbon membutuhkan biaya sangat mahal. Indonesia perlu membangun berbagai infrastruktur untuk pemantauan, seperti satelit, untuk mendukung perdagangan karbon."Dengan infrastruktur ekonomi sekarang, arsitektur ekonomi sekarang, itu akan menjadi beban finansial sebenarnya bagi Indonesia," ucapnya.Di sisi lain, harga karbon dari Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara lain, terutama di Eropa. Bahkan, nilai karbon Indonesia lebih rendah 10-25 kali lipat dari harga pasar global. Besarnya gap tersebut mencerminan ketimpangan asimetri kuasa dalam pasar global karbon.Untuk terintegrasi ke dalam pasar karbon global, kata dia, Indonesia sebenarnya perlu investasi awal dengan biaya finansial yang besar untuk mempersiapkan infrastruktur monitoring sampai tata kelola.Baca juga: Fokus Perdagangan Karbon, Misi RI di COP 30 Dinilai Terlalu Jualan"Kami melihat ini sebagai jebakan finansial. Nantinya akan jadi beban finansial ketika pasar karbon ini diterapkan di Indonesia dengan (harga) terlalu jauh di bawah pasar global dan belum ada reformasi tata kelola," ujar Fiorentina.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-16 03:10