Kenapa Ban Belakang Motor Listrik Sulit Diganti? Ini Penjelasannya

2026-01-12 10:20:57
Kenapa Ban Belakang Motor Listrik Sulit Diganti? Ini Penjelasannya
JAKARTA, – Motor listrik kerap disebut memiliki perawatan yang lebih sederhana dibandingkan motor konvensional. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya berlaku, terutama saat harus mengganti ban belakang.Di balik minimnya komponen mesin, terdapat kompleksitas teknis yang justru membuat proses bongkar pasang ban motor listrik menjadi lebih rumit.John Sebastian, pemilik toko Warung Ban di Depok, mengungkapkan bahwa mengganti ban motor listrik membutuhkan waktu dan kehati-hatian lebih dibandingkan motor berbahan bakar bensin.Baca juga: Alasan Jarak Tempuh Mobil Listrik Tak Sesuai Klaim Pabrikan/DIO DANANJAYA Ilustrasi toko Warung Ban yang menyediakan aneka ban motor di Depok, Jawa Barat.“Kelihatannya simpel, tapi ternyata ribet. Kalau motor biasa bongkar ban bisa 15 menit selesai, motor listrik bisa makan waktu sampai sejam, apalagi kalau tipe hub drive,” kata John, kepada Kompas.com, dikutip Minggu .Menurut John, tantangan utama terletak pada banyaknya kabel yang terhubung langsung ke dinamo dan kontroler. Seluruh kabel tersebut harus dilepas satu per satu sebelum roda belakang dapat dibongkar.“Kabelnya banyak, semua harus dicopot dulu sebelum ban bisa dibuka,” ujar dia.Baca juga: Siap-siap Masuk “Hall of Fame”, Rambu Tol Tampilkan Mobil NgebutTangkapan layar Ilustrasi bongkar pasang ban motor listrikMotor listrik dengan sistem hub drive memang menempatkan dinamo langsung di roda belakang. Kondisi ini memaksa mekanik membuka beberapa bagian bodi motor, menelusuri jalur kabel, lalu memasangnya kembali secara presisi.Kesalahan kecil, seperti posisi kabel yang tertukar atau kurang kencang, berpotensi membuat motor tidak berfungsi normal.Situasi tersebut berbeda pada motor listrik dengan sistem mid drive. Pada tipe ini, penggerak terhubung ke roda melalui belt atau rantai, sehingga proses bongkar ban relatif lebih mirip motor konvensional dan tidak terlalu banyak kabel yang harus dilepas.Baca juga: Belajar dari Insiden 4 Orang Tewas di Mobil, Apakah karena AC?/DIO DANANJAYA Servis motor listrikKesulitan teknis saat mengganti ban belakang motor listrik juga berdampak pada biaya servis. John menyebut, konsumen biasanya dikenakan tambahan biaya dibandingkan motor biasa.Ia menjelaskan, tambahan biaya servis motor listrik bisa mencapai Rp 50.000, terutama untuk bongkar pasang ban belakang.“Soalnya tenaga dan waktunya lebih banyak. Jadi wajar kalau biayanya beda,” ujar John.Baca juga: STNK Terblokir? Ini Penyebab dan Cara Membukanya di Samsat/Gilang Motor listrik alias dinamo pakai hub drive dan tidak pakai belt. Posisi motor dinamo yang terletak di roda belakang memungkinkan pemberian tenaga langsung dari motor dinamo ke roda.Selain soal biaya, tidak semua bengkel berani menangani motor listrik. Risiko kesalahan pemasangan kabel menuntut mekanik memiliki pengalaman dan ketelitian ekstra.Tantangan semakin besar pada beberapa motor listrik asal China yang menggunakan kabel tanpa kode warna. Kondisi ini menyulitkan mekanik dalam memastikan setiap kabel kembali ke posisi semula setelah proses bongkar ban selesai.Pengalaman serupa juga disampaikan Robith Wakhyudin, pemilik bengkel LC Ban di Serpong. Ia menilai, desain roda belakang motor listrik, khususnya tipe hub drive, memang membutuhkan perlakuan berbeda.Baca juga: Tanpa Tarif, Ini Ruas Jalan Tol Fungsional yang Dibuka saat Nataru/DIO DANANJAYA Ada beberapa masalah yang muncul ketika motor listrik tidak dipakai sebagaimana mestinya. Misal dipaksa melewati banjir dengan kedalaman cukup tinggi.“Jadi memang cara bongkarnya berbeda, karena dinamonya terletak di roda itu sendiri. Bisa pakai mesin buka ban biasa, tapi dudukannya yang agak khusus,” ujar Robith kepada Kompas.com belum lama ini.Robith mengatakan, mesin pembuka ban tetap bisa digunakan, namun membutuhkan dudukan yang lebih tinggi agar dinamo dan as roda dapat masuk dengan sempurna.“Kalau dudukannya pendek, enggak bisa masuk sempurna, ban enggak bisa dibuka,” kata dia.


(prf/ega)