SURABAYA, - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mendampingi psikologi, korban bullying dan kekerasan fisik dari teman sekamarnya di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Lamongan, Jawa Timur (Jatim).Kepala DP3APPKB Surabaya, Ida Widayati mengatakan, korban berinisial FAS (14) tersebut mengalami trauma mendalam akibat insiden yang dialaminya, pada Selasa lalu itu."(Kasus) yang berkaitan kasus ponpes Lamongan, korban sudah kita dampingi. Dari Senin kemarin," kata Ida, ketika dikonfirmasi, Rabu .Baca juga: Beasiswa Santri Jateng 2026 Resmi Dibuka, Ini Cara DaftarnyaSaat ini, kata Ida, bocah asal Kecamatan Tegalsari tersebut menolak untuk melanjutkan pendidikannya di ponpes. Karena, FAS mengaku kerap mengalami perundungan selama di sana."Kondisi korban trauma dan enggak mau lagi (kembali) ke pesantren. Pemicunya pelaku sering mencuri baju-baju korban," jelasnya.Lebih lanjut, Ida mendapat informasi, pihak keluarga korban telah melakukan proses mediasi. Akan tetapi, orangtua FAS meminta agar proses hukum perkara tersebut tatap dilanjutkan."Karena proses hukumnya di Polres Lamongan, maka pendampingan hukumnya dilakukan oleh UPTD PPA Provinsi Jatim," ucapnya.Baca juga: Cerita Santri Korban Bullying dan Kekerasan Fisik di Ponpes Lamongan"Infonya hari ini dilakukan proses mediasi di Polres Lamongan. Tapi ibu korban menginginkan proses hukumnya berlanjut," tambahnya.Sementara itu, orangtua korban, Winda Nurjannah (32) membenarkan informasi tersebut. Menurutnya, anaknya lebih pendiam setelah menjadi korban perundungan di ponpes."Rasanya anaknya lebih pendiam begitu, lebih kayak merasa bersalah, kayak takut akan terjadi lagi (perundungan). Susah diajak ngomong, masih bingung entah salah apa enggak," ujar Winda.Winda mengungkapkan, anaknya masih menolak untuk melanjutkan pendidikannya di ponpes. Oleh karena itu, korban melanjutkannya di salah satu sekolah agama di Surabaya."Ini ya sudah ketemu teman-temannya lagi, sudah ada yang kenal sama dia, yang mau interaksi sama dia. Awalnya dikiranya setelah ini enggak enggak punya teman lagi begitu," jelasnya.Baca juga: 71 Santri dan Siswa di Sumbawa Barat Diduga Keracunan MBG, Dapur SPPG Ditutup Sementara Diberitakan sebelumnya, Sempat ramai di dunia sosial (medsos) dugaan perundungan dan kekerasan fisik yang dialami oleh seorang santri di salah satu Ponpes yang ada di Kabupaten Lamongan.Dalam video yang beredar, tampak seorang santri memakai baju putih, menghampiri santri lain yang mengenakan kaus hitam.Dalam keterangan pada video itu, korban berniat menegur karena barang-barangnya kerap diambil. Kedua santri tersebut sempat adu mulut, hingga akhirnya terjadi kontak fisik.Orangtua santri yang menjadi korban tidak terima anaknya mengalami luka lebam akibat dugaan kekerasan tersebut.Mereka lalu melaporkan kejadian tersebut kepada jajaran Polres Lamongan."Polres Lamongan telah menerima pengaduan, tentang dugaan terjadinya tindak kekerasan di sebuah lembaga pendidikan keagamaan yang berada di Kabupaten Lamongan," ujar Kasi Humas Polres Lamongan Ipda M Hamzaid, Rabu .
(prf/ega)
Pemkot Surabaya Dampingi Santri Korban Bully yang Alami Trauma di Ponpes Lamongan
2026-01-12 04:38:56
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:53
| 2026-01-12 03:06
| 2026-01-12 03:03










































