Ironi Jelang Malam Tahun Baru, Penjual Kembang Api di Surabaya Keluhkan Omzet Turun 50 Persen

2026-02-02 02:36:04
Ironi Jelang Malam Tahun Baru, Penjual Kembang Api di Surabaya Keluhkan Omzet Turun 50 Persen
SURABAYA,  - Malam pergantian tahun biasanya identik dengan langit yang penuh warna-warni kembang api. Namun, menjelang Tahun Baru 2026, suasana di Surabaya, Jawa Timur, terasa berbeda tidak lagi seramai dulu.Lapak-lapak penjual kembang api yang biasa ramai, kini H-3 malam Tahun Baru tampak lengang menyusul adanya imbauan pemerintah untuk merayakan tahun baru secara sederhana.Tak hanya itu, kondisi ekonomi juga disebut menjadi penyebab penjualan kembang api merosot tajam jelang pergantian tahun 2026.Hani Ananda Prasetyo, penjual kembang api di Jalan Pasar Kembang, mengaku bahwa penjualannya tahun ini mengalami penurunan yang sangat terasa dibandingkan tahun lalu.“Beda jauh sekali. Untuk tahun ini sepi banget, karena beberapa waktu lalu ada himbauan dari pemerintah tidak boleh menyalakan kembang api," kata Hani kepada jurnalis termasuk Kompas.com, Senin .Baca juga: Malam Tahun Baru, Pemkab Mimika Ganti Pesta Kembang Api dengan Lepas Lampion"Jadi, ya kemungkinan orang-orang agak takut, selain itu keadaan ekonomi saat ini orang lebih sayang untuk beli kembang api mending buat kebutuhan sehari-hari. Kalau omset ya turun,” ujarnya lagi.Menurut Hani, kondisi ini jauh dari pola penjualan normal di tahun-tahun sebelumnya yang biasanya memuncak beberapa hari sebelum malam pergantian tahun. “Kalau sekarang sepi, jauh hampir 50 persen penurunannya karena himbauan tersebut,” katanya.Kondisi semakin berat bagi Hani dan sejumlah penjual kembang api lainnya karena persiapan penjualan telah dilakukan jauh hari sebelum imbauan dikeluarkan. “Untuk persiapan kembang api ini sudah sejak awal bulan Desember. Jadi barang-barang sudah datang dan imbauannya beberapa waktu terdekat. Makanya imbasnya kelihatan banget,” ujar Hani.Apalagi, menurut dia, sebagian pembeli ada yang sudah terlanjur membeli dengan jumlah besar bahkan sampai meminta pengembalian dana.“Terus ya gimana lagi mereka mintanya dikembalikan. Ya kita tidak bisa nolak karena memang tidak bisa dipakai juga, solusinya ya kita simpan untuk dijual pada waktu Lebaran,” kata pria yang sudah 20 tahun bergabung dengan Toko Harapan Jaya itu.“Karena ini barangnya impor langsung dari China, cuma lewat Jakarta dulu baru Surabaya. Sistemnya kita dititipin barang, kalau laku kita bayarkan,” ujarnya lagi.Baca juga: Malam Tahun Baru Tanpa Pesta Kembang Api, Pemkab Ponorogo: Tak Harus Meriah, tapi...Meski penjualan menurun, Hani mengatakan, permintaan belum sepenuhnya berhenti.Dia menyebut, pembeli lebih selektif dan cenderung memilih jenis kembang api yang dinilai lebih aman.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kondisi di Indonesia sangat berbeda. Sejumlah perguruan tinggi besar masih sangat bergantung pada dana mahasiswa. Struktur pendapatan beberapa kampus besar menggambarkan pola yang jelas:Data ini memperlihatkan satu persoalan utama: mahasiswa masih menjadi “mesin pendapatan” kampus-kampus di Indonesia. Padahal di universitas top dunia, tuition hanya berkontribusi sekitar 20–25 persen terhadap total pemasukan.Ketergantungan ini menimbulkan tiga risiko besar. Pertama, membebani keluarga mahasiswa ketika terjadi kenaikan UKT. Kedua, membatasi ruang gerak universitas untuk berinvestasi dalam riset atau membangun ekosistem inovasi. Ketiga, membuat perguruan tinggi sangat rentan terhadap tekanan sosial, ekonomi, dan politik.Universitas yang sehat tidak boleh berdiri di atas beban biaya mahasiswa. Fondasi keuangannya harus bertumpu pada riset, industri, layanan kesehatan, dan endowment.Baca juga: Biaya Kuliah 2 Kampus Terbaik di di Indonesia dan Malaysia, Mana yang Lebih Terjangkau?Agar perguruan tinggi Indonesia mampu keluar dari jebakan pendanaan yang timpang, perlu dilakukan pembenahan strategis pada sejumlah aspek kunci.1. Penguatan Endowment Fund Endowment fund di Indonesia masih lemah. Banyak kampus memahaminya sebatas donasi alumni tahunan. Padahal, di universitas besar dunia, endowment adalah instrumen investasi jangka panjang yang hasilnya mendanai beasiswa, riset, hingga infrastruktur akademik. Untuk memperkuat endowment di Indonesia, diperlukan insentif pajak bagi donatur, regulasi yang lebih fleksibel, dan strategi pengembangan dana abadi yang profesional serta transparan.2. Optimalisasi Teaching Hospital dan Medical Hospitality

| 2026-02-02 01:47