Petani di Madiun Menjerit, Limbah MBG Diduga Cemari Sawah

2026-01-12 03:37:03
Petani di Madiun Menjerit, Limbah MBG Diduga Cemari Sawah
MADIUN, – Petani di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, mengeluhkan pencemaran lahan pertanian akibat limbah dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di Desa Sumberejo, Kecamatan Geger.Limbah berupa air bercampur minyak tersebut mengalir ke lahan pertanian milik warga setempat.Putut Wagimitoyo, seorang petani yang lahannya tercemar, menyatakan bahwa air limbah tersebut menimbulkan bau menyengat."Kalau dibiarkan terus menerus, maka sawah ke depan akan susah diolah. Limbahnya itu limbah MBG seperti bekas cucian perlengkapan masak, campuran sabun, minyak. Makin hari endapannya tambah banyak," ungkap Putut pada Senin .Baca juga: Saat Pasukan Maggot Jadi Solusi Tangani Limbah MBG di SurabayaIa menambahkan bahwa limbah yang dihasilkan dari SPPG cukup banyak, mengingat SPPG tersebut melayani sekitar 2.000 porsi makanan bergizi setiap hari saat siswa masuk sekolah.Putut juga menyoroti bahwa para petani tidak pernah menerima pemberitahuan atau penjelasan dari pihak SPPG. Pemerintah desa setempat juga tidak memberikan informasi terkait aliran limbah tersebut.Putut menjelaskan bahwa limbah tidak masuk ke saluran irigasi, melainkan langsung dialirkan ke tanah resapan yang kemudian mengalir ke lahan pertanian warga."Kondisi ini mengakibatkan sejumlah petani mengalami gatal-gatal ketika berada di area sawah," kata Putut.Senada dengan Putut, Podo, petani lainnya, juga mengeluhkan kondisi tersebut.Baca juga: Limbah MBG Diubah Jadi Pakan Ternak, Cegah Pencemaran LingkunganIa menyatakan bahwa air limbah yang menggenang di sawah menimbulkan endapan berwarna keruh."Semestinya air limbah tidak dibuang ke sawah tetapi harus diarahkan ke parit," ujar Podo.Menanggapi masalah ini, Slamet, pemilik SPPG Assalam, menjelaskan bahwa limbah SPPG tidak dibuang sembarangan.Ia menyatakan bahwa pembuangan limbah dilakukan melalui sistem resapan dan sebagian mengalir ke parit di sisi barat rumah produksi."Kalau limbah itu dibuang di resapan. Kalau sampai ke sana, mungkin ada beberapa hal karena rumah tangga kan beda-beda. Parit bagian barat memang ada, tapi saya tidak tahu soal yang di luar itu," jelas Slamet.Saat ditanya mengenai limbah dari paralon SPPG yang langsung menuju sawah warga, Slamet mengaku tidak mengetahuinya.Baca juga: Jubir Kantor Komunikasi Presiden: SPPG Turut Bertanggung Jawab Tangani Limbah MBG"Setahu saya itu (limbah) masuk ke parit," katanya.Slamet menyatakan bahwa SPPG-nya siap memenuhi aturan terkait pembuangan limbah."Kalau ada saran supaya diturunkan atau diarahkan ke saluran lain, saya ikuti sesuai aturan," tambahnya.Dengan kondisi ini, para petani berharap ada tindakan dari pihak terkait untuk mengatasi pencemaran yang terjadi agar lahan pertanian mereka tidak semakin terancam.


(prf/ega)