Kenneth DPRD DKI Dorong Penguatan Pembinaan Karakter di Sekolah Pasca Ledakan SMAN 72

2026-01-11 14:52:53
Kenneth DPRD DKI Dorong Penguatan Pembinaan Karakter di Sekolah Pasca Ledakan SMAN 72
Terduga pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta, yang berstatus anak berhadapan dengan hukum (ABH), masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Setelah menjalani operasi di bagian kepala, kondisi pelaku dilaporkan sudah sadar namun belum stabil. Diketahui terduga pelaku merupakan salah satu siswa di sekolah tersebut.Menanggapi hal tersebut, Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ledakan yang diduga dilakukan oleh salah satu siswa di SMAN 72 Jakarta. Kejadian ini dinilai sebagai tamparan keras bagi dunia pendidikan di DKI Jakarta dan menjadi alarm serius bagi seluruh pihak, terutama lembaga pendidikan, guru, dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta."Kejadian ini merupakan tamparan keras bagi dunia pendidikan di DKI Jakarta. Akhirnya kita semua sadar bahwa anak-anak kita bukan hanya perlu diajarkan akademik, tetapi juga harus dibimbing dan dibina karakternya. Pendidikan sejatinya bukan sekadar tentang nilai, tetapi bagaimana membentuk pribadi yang beretika, bertanggung jawab, dan memiliki empati," tegas Kenneth dalam keterangannya, Selasa .Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta itu menilai, kasus ini harus dijadikan pelajaran bersama bahwa pendekatan humanis dan pembinaan karakter di lingkungan sekolah sangat penting untuk mencegah munculnya perilaku menyimpang di kalangan pelajar. Menurutnya, guru harus bisa menjadi sosok yang lebih dekat dan merangkul murid, bukan sekadar pengajar di ruang kelas."Guru harus bisa menjadi teman dan panutan. Anak-anak kita butuh sosok yang bisa mendengar keluh kesah mereka, memahami masalah mereka, dan mengarahkan mereka ke hal yang positif. Jika hubungan emosional antara guru dan murid terbangun dengan baik, potensi terjadinya hal-hal seperti ini bisa diminimalisir," lanjut Kepala BAGUNA DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta itu.Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Bang Kent itu mendesak Dinas Pendidikan DKI Jakarta agar tidak tinggal diam dan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan di sekolah-sekolah. Ia mendorong agar Dinas Pendidikan menyusun dan menerapkan kurikulum pembinaan karakter yang lebih kuat, terukur, dan relevan dengan tantangan zaman saat ini."Kejadian seperti ini tidak boleh diabaikan. Dinas Pendidikan DKI Jakarta harus benar-benar peduli dan turun tangan langsung. Buatkan kurikulum pembinaan karakter yang mampu menanamkan nilai-nilai moral, empati sosial, serta tanggung jawab pribadi kepada siswa. Ini bukan lagi sekedar tambahan kegiatan, tetapi harus menjadi inti dari proses pendidikan," ujar Ketua IKAL (Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI) PPRA Angkatan LXII itu.Menurutnya, pembentukan karakter siswa harus menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, dan pemerintah daerah. Ia juga mengajak semua pihak untuk menjadikan insiden di SMAN 72 Jakarta sebagai momentum refleksi dan pembenahan sistem pendidikan agar lebih manusiawi dan berorientasi pada pembinaan akhlak."Jangan sampai kejadian ini terulang kembali. Setiap anak memiliki potensi, tetapi juga memiliki sisi rapuh. Di sinilah peran guru, orang tua, dan pemerintah untuk hadir, membimbing, dan memastikan mereka tumbuh menjadi generasi yang cerdas sekaligus berkarakter," tutupnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-11 13:27