AI: Alat Vs Candu

2026-01-12 03:42:53
AI: Alat Vs Candu
SUATU malam di Seoul, seorang mahasiswa bernama Min-jun (bukan nama sebenarnya, tapi merupakan kisah nyata) mengalami serangan panik ketika aplikasi ChatGPT-nya tiba-tiba error.Tangannya gemetar, keringat dingin membasahi dahinya. Selama enam bulan terakhir, ia tak bisa membuat keputusan apa pun tanpa berkonsultasi dengan AI (Akal Imitasi): memilih menu sarapan, merespons pesan teman, bahkan menentukan baju yang akan dipakai.Ketika teknologi itu tak bisa diakses, Min-jun merasa seperti kehilangan sebagian dirinya.Kisah ini bukan fiksi, ia adalah salah satu dari ribuan kasus ketergantungan parah pada AI yang kini mulai mengkhawatirkan para psikiater di seluruh dunia.Di Indonesia, kegelisahan serupa mencuat ke permukaan. Survei kami, Sharing Vision, yang melibatkan lebih dari 5.000 responden secara nasional mengungkap fakta mengejutkan.Lebih dari 70 persen masyarakat Indonesia cemas terhadap potensi ketergantungan berlebihan pada AI.Angka ini bukan sekadar cerminan teknofobia belaka, melainkan intuisi kolektif yang ternyata didukung oleh deretan bukti ilmiah dari berbagai belahan dunia.Kurang dari tiga tahun sejak ChatGPT diluncurkan November 2022, dunia menyaksikan pergeseran fundamental dalam cara manusia berinteraksi dengan teknologi.Namun, apa yang tampak sebagai kemajuan revolusioner ternyata menyimpan sisi gelap yang mengingatkan pada mekanisme hypnosis, kondisi di mana seseorang secara bertahap menyerahkan kontrol dan kehendak mereka kepada kekuatan eksternal.Baca juga: Kiamat Pencitraan: Warganet Kini Vs Pemimpin Tipu-tipuPenelitian terbaru Nature Human Behaviour mengungkap temuan yang mencengangkan: GPT-4 memiliki kemampuan persuasi yang mengungguli manusia dalam 64 persen kasus debat online.Lebih mengkhawatirkan lagi, studi dalam jurnal Scientific Reports menemukan, orang-orang menganggap AI sebagai sumber yang lebih tidak bias dan lebih informatif dibandingkan manusia. Justru ketika mereka menerima pesan yang bertentangan dengan keyakinan mereka.Kondisi ini menciptakan apa yang para ahli sebut sebagai situational hypersuggestibility atau keadaan di mana seseorang menjadi sangat mudah menerima informasi dan sugesti tanpa kritis.Bagaimana AI bisa seperkasa itu? Para peneliti dari Stanford dan MIT menemukan bahwa AI modern mengeksploitasi sistem reward di otak manusia dengan cara yang sangat sistematis.Setiap kali kita mendapat jawaban memuaskan dari AI, otak melepaskan dopamine, zat kimia sama yang terlibat dalam kecanduan narkoba, judi, dan media sosial.Perbedaannya, AI menyajikan "hadiah" ini dengan personalisasi yang begitu canggih sehingga terasa seperti dibuat khusus untuk kita.Di Amerika Serikat, seorang eksekutif perusahaan teknologi bernama Sarah mengaku tak bisa lagi menulis email tanpa bantuan AI."Awalnya hanya untuk menghemat waktu," ungkapnya dalam wawancara dengan Psychology Today."Tapi sekarang, ketika saya mencoba menulis sendiri, rasanya kata-kata saya terdengar janggal dan tidak cukup baik. Saya kehilangan kepercayaan diri pada kemampuan komunikasi saya sendiri," tambah dia.Sarah bukan kasus tunggal. Laporan dari MIT Media Lab mencatat bahwa 43 persen profesional muda di AS mengalami fenomena serupa, apa yang mereka sebut sebagai cognitive atrophy atau kemunduran kemampuan kognitif akibat terlalu bergantung AI.


(prf/ega)