Keuangan Tertekan, Wijaya Karya (WIKA) Tunda Bayar Bunga Obligasi dan Bagi Hasil Sukuk

2026-01-11 22:58:52
Keuangan Tertekan, Wijaya Karya (WIKA) Tunda Bayar Bunga Obligasi dan Bagi Hasil Sukuk
JAKARTA, - Tekanan keuangan yang berat membuat PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) menunda pembayaran bunga Obligasi dan bagi hasil Sukuk Mudharabah yang jatuh tempo pada Desember 2025.Informasi ini tercantum dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terbit Jumat . Dalam laporan bernomor SE.01.00/A.DIR.00462/2025, manajemen menjelaskan kondisi arus kas tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh kewajiban obligasi dan sukuk.WIKA memiliki jadwal pembayaran bunga dan bagi hasil pada 3, 8, dan 18 Desember 2025. Jadwal tersebut mencakup Obligasi Berkelanjutan I dan II serta Sukuk Mudharabah Berkelanjutan dari periode 2020 hingga 2021.Baca juga: Ini Kerugian yang Diderita WIKA Gara-gara WhooshManajemen menyebut industri konstruksi nasional tengah merosot. Penurunan kontrak baru, melemahnya penjualan, serta turunnya penerimaan kas membuat perusahaan kekurangan dana likuid untuk memenuhi pembayaran.“Bahwa saat ini kondisi pasar industri konstruksi secara nasional mengalami penurunan, sehingga berdampak secara langsung kepada penurunan perolehan kontrak baru, penurunan penjualan, dan penerimaan cash in Perseroan,” tulis manajemen.“Hal ini mengakibatkan keterbatasan unrestrictred cash untuk memenuhi pemenuhan kewajiban pembayaran bunga Obligasi dan pendapatan bagi hasil Sukuk Mudharabah.”WIKA menyebut proses penyehatan masih berjalan. Transformasi operasional mencatat perbaikan, namun tekanan keuangan terkait pemenuhan debt service masih besar.Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, WIKA mengajukan penangguhan pembayaran kepada investor. Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) dan Rapat Umum Pemegang Sukuk Mudharabah (RUPSU) dijadwalkan pada 4, 5, dan 8 Desember 2025. Pengumuman rapat telah disampaikan pada 20 November 2025.Baca juga: KAI dan WIKA jadi BUMN Paling Terbebani Utang WhooshDirektur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, membuka kondisi finansial perusahaan yang tertekan oleh dua beban dari proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh.Pertama, beban sebagai investor. WIKA memiliki penyertaan modal Rp 6,1 triliun di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), pemegang 60 persen saham Whoosh. Sejak operasi berjalan, jumlah penumpang dan pendapatan tiket belum sesuai proyeksi awal.“Dampaknya yang paling utama adalah sejak Kereta Cepat ini beroperasi. Kami akan membukukan kerugian karena jumlah besar, itu yang pertama,” ujar Agung, Rabu .Kedua, beban sebagai kontraktor. WIKA adalah satu-satunya kontraktor lokal dalam konsorsium konstruksi bersama enam kontraktor China. Porsi pekerjaan WIKA sekitar 25 persen, meliputi pekerjaan bawah tanah.Saat ini, WIKA sedang menghadapi sengketa konstruksi dengan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Agung menyebut kerugian bisa membesar jika klaim tidak disetujui.


(prf/ega)