Viral Frasa 'Jangan Diinin, Apa Namanya?' tapi Kok Mitra Bicara Paham? Ini Penjelasan Ahli Bahasa

2026-02-06 07:39:57
Viral Frasa 'Jangan Diinin, Apa Namanya?' tapi Kok Mitra Bicara Paham? Ini Penjelasan Ahli Bahasa
- Kalimat 'jangan diini-iniin...apa namanya? adalah pokoknya' tengah seliweran di sosial media. Walau terdengar samar dan tidak lengkap, istilah universal ini cukup akrab dalam percakapan masyarakat Indonesia.Frasa ini kerap muncul di mana saja, mulai dari perbincangan di jejaring sosial, obrolan saat nongkrong, bahkan percakapan serius yang seharusnya butuh kejelasan.Lantas kenapa frasa ini bisa jadi populer bahkan mulai viral di berbagai media sosial?Dosen Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS), Miftah Nugroho memberikan pandangan menarik mengenai fenomena ini.Baca juga: Dark Jokes Ternyata Cermin Kecerdasan dan Ketenangan Emosi, Ini Penjelasan IlmuwanMiftah menyebut, eskpresi verbal "jangan diini-iniin, apa namanya? adalah pokoknya" merupakan produksi bahasa yang dihasilkan oleh seorang penutur manakala lupa (kadang lupa sesaat) untuk merujuk sesuatu hal yang hendak dijelaskan. "Oleh karena itu, untuk mengganti sesuatu yang lupa, lantas penutur mencari kata yang mudah untuk sekadar mengganti yang lupa tadi. Kata yang mudah untuk digunakan adalah kata 'ini', 'itu', atau 'anu'," terang pemerhati bahasa tersebut kepada Kompas.com, Selasa . Miftah menjelaskan, frasa 'jangan diini-iniin' sesungguhnya merupakan kalimat perintah agar mitra tutur tidak melakukan sesuatu. Namun karena lupa, kata 'ini' lah yang digunakan.Sedangkan, 'apa namanya?' juga merupakan ekspresi verbal yang memperlihatkan bahwa penutur lupa kata apa yang akan disampaikan. Begitu pula dengan kata 'adalah pokoknya' "Dalam konteks ini 'pokoknya' berdasarkan makna yang diambil dari KBBI VI daring dapat dipahami yang terutama atau yang sangat penting," lanjutnya. Baca juga: Indonesia Peringkat 2 dari 10 Negara dengan Bahasa Terbanyak di DuniaSaat mendengar ekspresi verbal tersebut, uniknya mitra bicara tak jarang mengisyaratkan gestur paham. Padahal artinya belum sepenuhnya jelas. Hal ini, lanjut Miftah, terjadi karena adanya pemahaman yang sama atau pengetahuan bersama antara penutur dan mitra tutur sebelum komunikasi terjadi. "Oleh karena itu, saat penutur menggunakan ekspresi tersebut, mitra tutur tidak butuh waktu lama dapat memahami karena sudah satu frekuensi. Bahkan kadang yang terjadi malah mitra tutur yang ingat apa kata yang akan digunakan oleh penutur," paparnya.Dalam responsnya, mitra bicara sering mengganggukkan kepala atau menanggapi dengan jawaban "oh iya" dengan tujuan untuk menghormati penutur yang sedang bertutur. "Di dalam kajian pragmatik (kajian yang menelaah penggunaan bahasa), saat penutur berujar, mitra tutur dianjurkan untuk melakukan tanggapan," paparnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-02-06 07:11