SUMENEP, - Sebanyak 750 balita di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, tercatat mengalami stunting.Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep, Desy Febryana, membenarkan jumlah tersebut.Dia menyebut, kasus stunting tersebar di seluruh wilayah kecamatan di Sumenep.“Balita stunting di Sumenep tersebar di 27 kecamatan,” kata Desy kepada Kompas.com di Sumenep, Kamis .Baca juga: Longsor Tutup Jalan Penghubung 2 Desa di Sumenep, Warga Bersihkan Jalan Dibantu TNI-PolisiDi tengah ratusan balita yang mengalami stunting, Dinkes P2KB memastikan telah melakukan berbagai upaya penanganan.Salah satunya melalui pemberian makanan tambahan (PMT) berupa susu PKMK khusus untuk balita stunting.“Penanganan awal dilakukan dengan Pemberian Diet Khusus atau PDK selama kurang lebih 14 hari,” lanjutnya.Baca juga: Tenaga Gizi di Kaltim Baru 503 Orang, DPRD Desak Percepatan Penanganan StuntingMenurut Desy, PDK bertujuan untuk mengejar pertumbuhan dan memperbaiki status gizi balita, terutama indikator tinggi badan menurut umur.“Fokus utama PDK adalah memperbaiki kondisi gizi agar pertumbuhan anak bisa dikejar sesuai usianya,” ujarnya.Setelah masa PDK selesai, intervensi dilanjutkan dengan PMT berbasis pangan lokal. Dinkes P2KB menekankan kandungan protein tinggi dalam makanan tersebut.“PMT lanjutan menggunakan pangan lokal dengan Protein Efficiency Ratio atau PER minimal 12 persen,” tutur Desy.Meski demikian, Desy mengakui, terdapat sejumlah kendala dalam proses penanganan di lapangan. Salah satunya, tidak semua balita stunting bisa langsung mendapatkan intervensi PDK.“PDK harus sesuai dengan diagnosis medis, resep diet dari dokter spesialis anak, serta perhitungan ahli gizi,” ungkapnya.Selain itu, Dinkes P2KB juga menekankan pentingnya upaya pencegahan dibandingkan pengobatan.“Mencegah lebih baik daripada mengobati, sehingga intervensi justru lebih ditekankan pada balita dengan masalah gizi lain sebelum menjadi stunting,” jelas Desy.“Tidak semua kasus stunting dapat diintervensi langsung oleh Dinkes dan jejaringnya, sehingga diperlukan peran dan penanganan optimal dari pihak lain,” jelasnya lagi.Ke depan, Dinkes P2KB Sumenep menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat penanganan stunting.Di antaranya, penguatan deteksi dini dan skrining rutin di posyandu, standarisasi SOP penanganan stunting dan PDK, penguatan sistem rujukan, serta kerja sama lintas sektor.“Intervensi juga akan diarahkan pada balita berisiko stunting seperti wasting, underweight, dan berat badan tidak naik,” jelas Desy.
(prf/ega)
750 Balita di Sumenep Alami Stunting, Tersebar di Semua Kecamatan
2026-01-12 03:46:13
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:30
| 2026-01-12 02:31
| 2026-01-12 02:25
| 2026-01-12 01:15










































