Banjir Ekstrem akibat Lelehan Gletser Diprediksi Lebih Mematikan

2026-02-04 14:37:32
Banjir Ekstrem akibat Lelehan Gletser Diprediksi Lebih Mematikan
- Banjir ekstrem yang disebabkan air lelehan gletser diprediksi akan menyebabkan lebih banyak kematian secara global, menurut penelitian dari University of Dundee di Skotlandia.Air lelehan gletser mengendap di cekungan alami di bentang alam yang ditinggalkan oleh gletser saat mencair. Air tersebut tertahan oleh endapan lumpur, pasir, dan kerikil yang ditinggalkan oleh gletser.Baca juga:Sayangnya, air yang terbendung dan membentuk danau glasial tersebut tidak stabil dan dapat mengakibatkan banjir di hilir ketika melemah atau jebol. Hal ini bisa membahayakan masyarakat dan infrastruktur di hilir."Kita masih punya waktu untuk bertindak mencegah hal ini, tapi kita harus bertindak cepat," ucap pakar glasiologi dan bahaya geologi dari University of Dundee, Dr. Simon Cook, dilansir dari Independent.co.uk, Senin .Diterbitkan di jurnal Nature Communications, studi ini mendokumentasikan peningkatan tajam dalam frekuensi peristiwa-peristiwa tersebut sejak tahun 1980-an. Dok. Freepik/wirestock Banjir akibat lelehan gletser diprediksi akan makin sering dan memicu lebih banyak kematian global seiring pemanasan iklim.Terjadi peningkatan 5,2 banjir bandang danau gletser (Glofs atau glacial lake outburst floods) per tahun dari tahun 1981 sampai 1990, menjadi 15,2 Glofs per tahun dari tahun 2011 sampai 2020.Glofs adalah istilah teknis untuk banjir bandang yang terjadi ketika bendungan alami danau gletser jebol.Tim peneliti lainnya yang dipimpin oleh pakar dari Chinese Academy of Sciences juga melakukan penelitian serupa dengan mempelajari citra satelit dan catatan dokumenter selama 120 tahun untuk mengidentifikasi 609 insiden jebolnya danau glasial dan menyebabkan banjir.Selama periode 1900-2020, 400 kejadian telah diidentifikasi dan dicatat yang kemudian meningkat menjadi 609.Lebih dari 100 kejadian Glof yang tercatat menyebabkan kerusakan di hilir, dan telah terjadi lebih dari 13.000 kematian secara global, dengan jumlah banjir yang merusak tertinggi terjadi di wilayah pegunungan dan dataran tinggi di Asia, serta wilayah Andes tropis.Baca juga:


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#1

Perubahan Anggaran Dasar dilakukan sebagai bentuk penyesuaian terhadap ketentuan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (UU BUMN). Salah satu implikasi penting dari penyesuaian tersebut adalah perubahan nama perseroan, dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk menjadi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.Sementara itu, pelimpahan kewenangan persetujuan RKAP 2026 dan RJPP 2026-2030 kepada Dewan Komisaris dijalankan dengan tetap mengedepankan mitigasi risiko serta prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG).Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, mengatakan seluruh keputusan RUPSLB merupakan bagian dari konsolidasi tata kelola perseroan agar semakin adaptif terhadap regulasi dan tantangan bisnis ke depan.Baca juga: Dana Rp 2,5 Miliar Digelontorkan, PGN Percepat Bantuan Banjir Aceh–Sumut“Penyesuaian yang disetujui pemegang saham bertujuan memastikan keselarasan anggaran dasar Perseroan dengan ketentuan regulasi yang berlaku, sekaligus memperkuat kejelasan peran, mekanisme pengambilan keputusan, dan akuntabilitas pengelolaan perusahaan secara berkelanjutan,” ujar Fajriyah.PGN menilai, langkah strategis yang diputuskan dalam RUPSLB ini mencerminkan komitmen kuat perusahaan dalam menjaga kepastian regulasi, memperkokoh struktur tata kelola, serta memastikan keberlanjutan kinerja jangka panjang. Upaya tersebut sejalan dengan mandat PGN sebagai subholding gas di bawah PT Pertamina (Persero), khususnya dalam mendukung ketahanan dan transisi energi nasional.

| 2026-02-04 14:00