8 Lokasi Perayaan Malam Tahun Baru 2026 di Jakarta, D’Masiv Jadi Bintang Utama

2026-01-14 08:42:01
8 Lokasi Perayaan Malam Tahun Baru 2026 di Jakarta, D’Masiv Jadi Bintang Utama
JAKARTA, - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan delapan lokasi perayaan malam Tahun Baru 2026 di Jakarta.Jumlah tersebut berkurang dari rencana awal yang menyiapkan 14 titik perayaan.Pengurangan dilakukan dengan tetap mempertahankan sejumlah lokasi yang selama ini menjadi pusat tradisi perayaan pergantian tahun di Jakarta.Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa keputusan pengurangan jumlah titik perayaan telah melalui pertimbangan, dengan fokus pada lokasi-lokasi utama yang sudah dikenal masyarakat.“Dari segi titik lokasi yang sebelumnya dipersiapkan sebanyak 14 titik, akhirnya diputuskan menjadi 8 titik. Dari titik-titik utama yang selama ini menjadi tradisi yang ada di Jakarta, ada beberapa yang dikurangi, di antaranya adalah Monas,” ujar Pramono, Senin .Baca juga: BMKG: Prakiraan Cuaca Jakarta dan Bodetabek saat Tahun Baru 2026Adapun delapan titik perayaan malam Tahun Baru 2026 yang disiapkan Pemprov DKI Jakarta meliputi:Baca juga: Ada Rekayasa Lalin Malam Tahun Baru di Jakarta, Ini Skema Pengalihan ArusnyaPemprov DKI Jakarta memusatkan perayaan utama malam pergantian tahun di Bundaran HI. Di lokasi ini, jajaran pimpinan Pemprov DKI dijadwalkan hadir langsung untuk mengikuti rangkaian acara.“Sehingga dengan demikian, titik utamanya nanti ada di Bundaran HI. Di sana akan hadir Gubernur, Wakil Gubernur, dan Sekretaris Daerah,” tuturnya.Dalam perayaan tersebut, Bundaran HI juga akan menghadirkan hiburan musik dengan menghadirkan grup band D’Masiv sebagai bintang tamu utama.Pemprov DKI secara khusus telah menentukan lagu yang akan dibawakan pada momen pergantian tahun.Baca juga: 33 Ruas Jalan di Jakarta Ditutup Saat Malam Tahun Baru“Kami sudah berpesan yang paling utama adalah pas pergantian itu di Bundaran HI kami minta untuk D’Masiv. Judul lagunya ‘Jangan Menyerah’,” tegas Pramono.Ia menambahkan alasan pemilihan lagu tersebut telah melalui pertimbangan tersendiri.“Karena untuk mesen lagu seperti ini kan enggak gampang, maka itulah yang kami pilih untuk pergantian tahun,” lanjutnya.Selain D’Masiv, sejumlah artis ibu kota lainnya juga dijadwalkan tampil untuk mengisi rangkaian acara perayaan di Bundaran HI.Baca juga: Daftar 36 Kantong Parkir Saat Malam Tahun Baru 2026 di JakartaPemprov DKI Jakarta memastikan perayaan malam Tahun Baru 2026 di Bundaran HI tidak menggunakan kembang api.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-14 08:37