TOKYO, – Kemunculan mobil baru di luar negeri sering kali membuat banyak penggemar berharap agar model tersebut segera dirakit secara lokal.Alasannya beragam, salah satunya adalah untuk menekan harga jual.Namun, di balik keputusan melokalkan produksi sebuah mobil, ternyata ada banyak pertimbangan bisnis yang tidak sederhana.Presiden Direktur PT Honda Prospect Motor (HPM) Shugo Watanabe mengatakan bahwa keputusan untuk memproduksi mobil di dalam negeri tidak bisa diambil hanya karena permintaan pasar semata. “Dari segmen, harga, dan volume kontribusi, setelah kita berinvestasi besar di pabrik, kalau hasilnya kurang dari 2.000 unit per bulan, itu tidak masuk akal. Kalau CKD, targetnya minimal 2.000 unit per bulan,” ujar Watanabe di Tokyo, Sabtu .Baca juga: Rapor Penjualan Mobil Hybrid Nasional September 2025/AGK Honda Super-ONE Prototipe di JMS 2025Menurut Watanabe, produksi lokal penuh (CKD/Completely Knock Down) membutuhkan skala ekonomi yang besar agar investasi bisa kembali dalam waktu yang wajar. “Semua tergantung skala ekonomi. Produksi lokal sepenuhnya butuh investasi besar. Bisa Rp 1 triliun sampai Rp 2 triliun, karena (pembuatan) panel bodi, interior, moulding, dan tooling itu besar biayanya,” ucap dia.Karena itu, Honda tidak bisa serta-merta merakit setiap model baru di Indonesia.Watanabe menegaskan bahwa perusahaan harus memperhitungkan masa pakai produk dan potensi penjualannya secara realistis. “Kalau kita bisa investasi dalam dua tahun, lalu menjual model itu selama lima tahun (ke depan), itu baru masuk akal. Kita perlu membangun kepercayaan,” katanya.Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa keputusan memproduksi mobil lokal bukan hanya soal permintaan konsumen, tetapi juga soal keberlanjutan bisnis.Baca juga: Honda Siapkan Produksi Mobil Listrik Lokal di IndonesiaKOMPAS.COM./AGUNG KURNIAWAN Yusak Billy, Sales & Marketing and After Sales Director PT HPM berpose dengan Honda 0 alpha, calon SUV listrik masa depan.Di tengah tren elektrifikasi yang mulai menguat, strategi ini akan menjadi kunci bagi Honda dalam menentukan model mana yang layak dirakit di Indonesia, termasuk calon mobil listrik generasi baru seperti Super One atau Zero Alpha yang saat ini masih dalam tahap studi.Dengan pertimbangan investasi besar dan kebutuhan volume yang tinggi, tampaknya Honda akan sangat selektif dalam memutuskan model mana yang akan mendapat status “Made in Indonesia” di masa depan.
(prf/ega)
Mengapa Honda Selektif Memproduksi Mobil di Indonesia?
2026-01-12 03:41:43
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 02:45
| 2026-01-12 02:41
| 2026-01-12 02:01










































