Sama-sama Nonton YouTube, Kenapa Perilaku Anak Ada yang Positif dan Negatif?

2026-01-12 04:09:54
Sama-sama Nonton YouTube, Kenapa Perilaku Anak Ada yang Positif dan Negatif?
JAKARTA, - YouTube termasuk platform digital yang berisi video baik untuk pembelajaran maupun hobi yang bisa diakses anak. Namun, meski sama-sama mengakses YouTube, mengapa ada anak yang perilakunya jadi positif, dan ada pula yang jadi negatif? “Ada banyak faktor penyebab, pertama sudah pasti dari parenting atau situasi di rumah,” kata psikolog sekaligus Ketua Bidang E (Humas, Media dan Edukasi) Himpunan Psikologi Indonesia, Samanta Elsener, M.Psi., saat ditemui di Kantor Google Indonesia, Jakarta Selatan, Kamis .Baca juga: Situasi di rumah seperti apa yang bisa memengaruhi anak? Simak penjelasannya. Samanta mengatakan bahwa situasi seperti ini bisa terlihat dari serial Netflix, Adolescence, yaitu serial yang menggambarkan seorang bocah laki-laki bernama Jamie Miller yang melakukan tindak pidana karena terpapar pandangan misoginis di dunia maya.Dalam serial tersebut, Miller datang dari keluarga yang harmonis. Namun, ia terpapar konten negatif karena orangtuanya terlalu membebaskannya mengakses dunia maya.“Orangtuanya lupa memberikan pengawasan terhadap bagaimaan anak mengonsumsi konten-konten sehingga mereka menyerap. Anak itu reseptifnya tinggi sekali, dan rasa penasarannya juga sangat luar biasa,” ujar Samanta.Alhasil, ketika anak mendapatkan banyak variasi konten di dunia maya, tetapi tidak ada diskusi lebih lanjut dengan orang dewasa di sekitarnya dan juga pengawasan, anak bisa menjadi negatif karena terpapar konten negatif./Bill Clinten Psikolog dan Ketua Bidang Humas HIMPSI, Samanta Elsener, di sela acara Beranda Jiwa di kantor Google Indonesia di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis .Beda halnya dengan anak yang bisa mendiskusikan apa pun yang ditemukan di dunia maya dengan orang dewasa di sekitarnya, dan aksesnya diawasi oleh mereka.Anak hanya menganggap konten negatif sebagai konten belaka atau “sekadar informasi tambahan”, dan ia kembali menjalani hari-hari seperti biasa.“Anak menjadi liar. Dia merasa bahwa melakukan ini (apa yang dilihat dalam konten negatif di dunia maya) boleh. Norma yang ada di dalam standar sosial itu jadi tidak ada di dalam diri anak,” ucap Samanta.Baca juga: Karena tidak ada diskusi lebih lanjut dengan orang dewasa di sekitarnya, dapat dikatakan bahwa kompas moral anak terhadap konten negatif yang dilihatnya, bisa diterapkan di dunia nyata.Mereka jadi tidam bisa berpikir panjang, dan cenderung lebih bersikap impulsif sesuai emosi yang sedang dirasakan.“Karena menurut dia, dari semua konten-konten yang didapatkan, itu layak dia lakukan,” kata Samanta.Bisa saja ia meluapkan emosinya dengan memukul orang, tanpa berpikir bahwa tindakannya bisa melukai orang lain dan membuat dirinya terjerat dalam masalah.Sebab, anak meniru konten yang dilihat, dan mencontoh apa yang terjadi dalam konten tersebut. Ini karena tidak ada orang dewasa yang mengatakan bahwa emosi bisa dikeluarkan dengan cara yang lebih positif, bukan seperti apa yang ada dalam konten tersebut.


(prf/ega)