Cerita Guru di Yogyakarta, AI Buat Siswa Tak Paham Materi Pembelajaran

2026-01-12 04:18:35
Cerita Guru di Yogyakarta, AI Buat Siswa Tak Paham Materi Pembelajaran
YOGYAKARTA, - Guru sekolah tingkat SMP di Kota Yogyakarta mengeluhkan tantangan menjadi guru di era kecerdasan buatan saat ini.Amelita Tarigan, guru SMP swasta di Yogyakarta yang telah mengajar selama 23 tahun pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, mengeluhkan bahwa kemampuan siswa saat ini terlalu bergantung pada kecerdasan buatan atau yang akrab disapa AI.Amelita mencontohkan, saat mengajar Bahasa Indonesia, ia sering memberikan tugas untuk membuat pantun kepada siswanya.“Mereka cepat membuatnya karena pakai AI. Pantunnya juga bagus-bagus, tapi saat ditanya pantun itu apa, mereka enggak paham,” katanya, Selasa .Baca juga: Lantai 2 Ambruk Saat Hari Guru, Sekitar 20 Guru dan Karyawan Sekolah Alam Purwokerto Luka-lukaSelain itu, lanjut dia, banyak siswa yang masih terbata-bata saat membaca soal-soal bahasa Indonesia.“Soal Bahasa Indonesia itu kan panjang-panjang, banyak yang masih belum lancar,” ucapnya.Ia pun harus memutar otak agar siswa-siswanya dapat lancar membaca dan memahami pelajaran yang diberikannya.Salah satu caranya adalah dengan mencongak yang bertujuan untuk melatih kecepatan berpikir serta melatih daya ingat.“Kalau ada waktu 10 menit sebelum pelajaran selesai, itu biasanya saya kasih mencongak,” ujar dia.Selain tantangan AI, perubahan kurikulum juga menjadi tantangan tersendiri baginya.Perubahan kurikulum Merdeka menjadi Kurikulum Deep Learning dengan konsep memuliakan siswa membuat perdebatan di antara guru.Belum lagi peraturan-peraturan yang dibuat pemerintah sekarang membuat mereka tidak bisa bereksplorasi.“Ada beberapa guru yang menganggap memuliakan siswa itu malah sesuatu kemungkaran. Kadang-kadang interpretasi memuliakan itu yang membuat kita, lho kok dimuliakan,” katanya.“Akan tetapi bagi saya pribadi, prinsipnya, anak itu juga partner kita. Kalau tidak ada siswa, kita juga tidak mungkin bisa bekerja ya,” imbuh Amelita.Tantangan lainnya adalah gaji per bulan yang ia terima.Amelita yang berstatus sebagai guru yayasan tetap baru merasakan kenaikan gaji sebesar Rp 2 juta dalam kurun satu tahun terakhir, yang didapat dari tunjangan profesi.“Jadi guru sekolah kami yang belum tersertifikasi hanya dapat gaji dari BOSDa sebesar Rp 400 ribu per bulan. Mudah-mudahan bisa naik, katanya mau naik Rp 500 ribu,” ucap Amelita.


(prf/ega)