BMKG Ungkap Alasan Banyak Korban Banjir Sumatera: Kita Belum Siap Hadapi Bencana Sebesar Ini

2026-01-12 01:59:41
BMKG Ungkap Alasan Banyak Korban Banjir Sumatera: Kita Belum Siap Hadapi Bencana Sebesar Ini
JAKARTA, - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani memberi penjelasan kenapa bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh menimbulkan banyak korban, meski BMKG sudah memberi peringatan dini sejak 8 hari sebelumnya.Ia menjelaskan, Indonesia sejak awal tidak merasa rawan terhadap siklon tropis atau tropical cyclone. Sebab, siklon tropis biasa terjadi di negara lain, seperti Filipina, Jepang, Hong Kong, dan Taiwan.Sehingga, negara-negara yang sering mengalami siklon tropis lebih siap menghadapi bencana yang datang.Baca juga: BMKG Prediksi 12 Wilayah Indonesia Masuk Puncak Musim Hujan Desember 2025, Mana Saja?"Mengapa kesiapsiagaannya masih belum optimal? Ini karena begini. Sejak dari kita tumbuh, bahwa kita tidak merasa bahwa Indonesia ini adalah daerah yang rawan terhadap siklon. Itu biasanya terjadi di daerah-daerah di atas 5 derajat Lintang Utara atau 5 derajat Lintang Selatan. Jadi daerah seperti Jepang, Taiwan, Filipina, Hongkong itu daerah siklon," ujar Teuku di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa ."Bahkan di atas utaranya Papua itu terbentuk bibit siklon yang tahunan itu, bergerak melintasi Filipina berhenti di Laut Cina Selatan. Itu lebih dari 10 kali setahun. Mereka lebih siap," sambungnya.Teuku menegaskan, Indonesia tidak siap menghadapi siklon tropis karena itu bukanlah kejadian yang lazim. Dengan begitu, ketika ada bencana dengan eskalasi besar imbas siklon tropis, Indonesia belum siap.ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra Foto udara kondisi pascabanjir bandang melalui Helikopter Caracal Skadron Udara 8 Lanud Atang Sendjaja di daerah terisolir akibat bencana di Nagari Tiku V Jorong, Agam, Sumatera Barat, Senin . TNI-AU melalui Lanud Sutan Sjahrir Padang mendistribusikan 4.500 kilogram logistik untuk korban banjir bandang di Maligi, Pasaman Barat, Sungai Pua Palembayan dan Tiku V Jorong di Agam. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/YU"Kita siklon tropis itu bukan kejadian yang lazim, karena kita berada tidak lebih dari 5 derajat Lintang Utara atau Selatan. Ini kejadian akibat anomali cuaca dan atmosfer, sehingga terjadilah siklon. Sehingga kita secara prinsip kita juga belum begitu siap menghadapi bencana dengan eskalasi sebesar ini," papar Teuku.Meski begitu, Teuku menyebut pemerintah telah menyiapkan banyak mitigasi jika berkaitan dengan bencana hidrometeorologi. Dia memastikan pemerintah tetap bersiaga ketika BMKG sudah memberikan informasi perihal siklon tropis."Jadi ketika diberi informasi soal siklon, persiapannya cukup banyak, kita menyiapkan semua personel di daerah. Drainase-drainase itu mulai dibersihkan agar siap alirkan air, kemudian semua bersiaga, masyarakat juga siapkan bahan makanan agar ketika terjadi isolasi bisa bertahan lebih lama," imbuhnya.Baca juga: Basarnas Klaim Sudah Tak Ada Daerah yang Terisolasi imbas Banjir dan Longsor SumateraTeuku mengatakan pihaknya sudah memberi peringatan dini mengenai cuaca ekstrem di Sumatera Utara (Sumut) sejak 8 hari sebelum bencana terjadi.Lalu, untuk di kawasan Aceh dan Sumatera Barat (Sumbar), BMKG sudah memberi peringatan sejak 4 hari sebelum bencana.Hal tersebut Teuku sampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin ."Berikut kami sampaikan analisis dari BMKG terkait dengan cuaca terkini di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam rentang waktu 27 November hingga 4 Desember 2025," ujar Teuku.Baca juga: Pemerintah Akan Santuni Korban Bencana di Sumatera, Ini Rinciannya"Ini kami sampaikan bahwa untuk daerah Aceh dan Sumatera Barat, BMKG telah menerbitkan press release untuk potensi bencana siklon atau cuaca ekstrem di Aceh dan Sumatera Barat. Ini 4 hari sebelum bencana. Untuk Sumatera Utara, press release-nya telah diterbitkan 8 hari sebelum bencana terjadi," sambungnya.Teuku menyampaikan, BMKG pusat telah memberi wewenang kepada Kepala Balai Besar BMKG Wilayah I yang membawahi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau untuk menyampaikan peringatan dini.Menurutnya, ketika peringatan disampaikan, sejumlah kepala daerah memberikan respons positif."Ini adalah peringatannya. Beberapa kepala daerah itu langsung memberikan respons positif dengan mengingatkan warganya melalui berbagai kanal. Ini kita sampaikan ke Forkopimda, provinsi, BPBD, semua kami sampaikan. Dan ini terus di-update setiap 2 hari bahwa akan terjadi cuaca ekstrem pada tiga wilayah ini," imbuh Teuku.


(prf/ega)