- Keberanian dan semangat hidup Johanes (16) menjadi satu dari sedikit kisah selamat dalam banjir dan longsor di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).Remaja itu mampu bertahan selama sekitar 1,5 jam di atas ranting dan kayu yang hanyut terseret arus banjir. Namun, keselamatan Johanes harus dibayar mahal: ibunya dan sang nenek meninggal dunia.Saat ditemui di Posko Pengungsian Simpang Kelurahan Hutanabolon–Sipange, Johanes tampak murung.Ia lebih banyak duduk di dalam tenda, enggan bermain dengan anak-anak seusianya. Johanes memilih menunggu kedua kakaknya yang masih merantau untuk pulang ke kampung halaman.Baca juga: Kisah Arman Zebua, Selamatkan 52 Nyawa dari Jebakan Longsor-Banjir di Hutan Tapanuli TengahJohanes bercerita, ketika hujan deras mengguyur kawasan Hutanabolon, ia bersama ibu dan neneknya sempat bertahan di rumah. Sang ibu mengira banjir yang datang hanya banjir biasa.Namun, air terus meninggi dan mulai memasuki rumah. Mereka bertiga pun bergegas naik ke atap.“Ternyata banjir semakin tinggi. Rumah kami roboh, kami naik ke atas genteng. Ternyata air semakin deras. Akhirnya hanyutlah nenek,” ujar Johanes, mengenang detik-detik mencekam itu.Tak lama setelah neneknya terseret arus, atap rumah yang mereka tumpangi juga ikut terbawa banjir. Johanes dan ibunya pun hanyut bersama derasnya arus.Di tengah arus banjir, Johanes masih sempat menggenggam tangan ibunya. Namun, pusaran air deras dan hantaman kayu besar membuat mereka terpisah.“Gak lama hanyutlah kami. Itu masih sama, tapi ada pusaran air deras ditambah ada kayu. Di situlah aku sama mamak terpisah,” ucap Johanes dengan suara pelan.Dalam kondisi penuh ketakutan, Johanes berusaha tetap tenang. Ia kemudian berpegangan pada ranting dan kayu yang hanyut, meski tubuh dan kakinya terluka akibat benturan.“Saya bertahan di atas ranting-ranting pohon dan kayu itu. Kaki sudah luka-luka kena kayu. Saya lihat gak ada orang, takutlah. Tapi sekitar 1,5 jam saya bertahan, sampai melihat orang yang masih bertahan di atas genteng,” katanya.Johanes kemudian berusaha menepi dan dibantu warga lain untuk naik ke genteng. Mereka menunggu hingga sekitar tiga jam sampai air surut sebelum mencari bantuan.Baca juga: Update Pencarian Korban Banjir Tapanuli Tengah: 45 Masih Hilang, Banyak Jalan Desa PutusDokumentasi pribadi Bina Tumpukan kayu dan lumpur terlihat masih menutup jalan di Lingkungan I, Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa .Setelah dievakuasi, Johanes dibawa ke posko pengungsian. Ayah Johanes telah lama meninggal dunia. Kedua kakaknya merantau, masing-masing ke Jakarta dan Medan.“Saya ke posko. Tapi di situ saya sendirian, kakak-kakak belum datang karena merantau semua,” ujarnya.
(prf/ega)
Bertahan 1,5 Jam di Atas Ranting, Johanes Selamat dari Banjir Hutanabolon, Ibu dan Neneknya Meninggal
2026-01-14 03:39:43
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-14 03:37
| 2026-01-14 03:06
| 2026-01-14 02:37
| 2026-01-14 01:20










































