SOLO, - Sudah 13 tahun Sri Sudarti (50), warga Dawung Kulon, Serengan RT 1/RW 10 Surakarta, mengabdi di Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta.Sebagai penyandang disabilitas fisik, ibu tangguh dengan tiga anak ini punya tekad dan rasa percaya diri untuk mengarungi kehidupan.Tidak hanya itu, ia juga aktif mengadvokasi agar kuota 2 persen pegawai disabilitas bisa terpenuhi di lingkungan Pemkot Surakarta.Perempuan yang saat ini bekerja sebagai resepsionis di Kantor Prokopim Balai Kota Surakarta ini sudah berjuang di tengah keterbatasan sejak kecil.Baca juga: Menengok Serunya Sepak Bola Amputasi di Banyuwangi pada Hari Disabilitas InternasionalLahir pada 1975, Sudarti harus menerima kenyataan takdir kelumpuhan pada usia 5 tahun akibat virus polio.Aktivitas keseharian anak bungsu dari enam bersaudara itu pun harus akrab dengan alat bantu jalan.Meski begitu, Sri Sudarti memegang teguh didikan dari orang tuanya agar terus percaya diri."Masalah aktivitas atau lainnya itu tidak ada masalah. Ini didikan orang tua juga harus percaya diri," ujarnya saat ditemui Kompas.com di lobi kantor Prokopim Balai Kota Surakarta, Senin .Baca juga: Evih dan Dilema Mencari Nafkah: Bolehkah Ibu Bekerja Sambil Bawa Anak Disabilitas?Sudarti sempat mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Sekolah Luar Biasa (SLB) YPAC Kota Surakarta.Kemudian, setelah lulus, ia memilih melanjutkan ke sekolah umum, yakni SMP Kanisius 2 dan SMA N 7 Surakarta."Saya tidak mau sekolah di SLB. Dorongan dari keluarga juga, kalau sekolah di SLB terus otomatis tidak akan berkembang karena tidak berbaur dengan teman-teman non disabilitas," jelasnya.Sudarti mengaku bahwa selama menempuh pendidikan, ia tidak mengalami masalah dalam pergaulan.Namun, ia menghadapi masalah aksesibilitas yang terbatas, salah satunya ketika harus menaiki anak tangga untuk mencapai ruang kelas.Tahun 1995, Sudarti memulai perjalanan pendidikan di perguruan tinggi Akademi Manajemen Industri Yosodipuro.Baca juga: Perjuangan Ibu Tunggal Bekerja Ekstra Mengurus ABK: Saya Ingin Anak-anak Lihat Saya BangkitNamun, ia hanya bertahan tiga semester karena faktor pembiayaan.
(prf/ega)
Kisah Ibu Penderita Polio Jadi Tulang Punggung, Pendorong Kuota Disabilitas di Surakarta
2026-01-12 04:43:56
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:04
| 2026-01-12 03:17
| 2026-01-12 03:16
| 2026-01-12 02:46










































