Saat Tawa Menjadi Penguat di Tengah Gelapnya Pengungsian Korban Banjir Aceh Tamiang

2026-01-13 07:10:35
Saat Tawa Menjadi Penguat di Tengah Gelapnya Pengungsian Korban Banjir Aceh Tamiang
ACEH TAMIANG, – Suasana di posko pengungsian Gampong Bundar, tak jauh dari Kantor Bupati Aceh Tamiang, perlahan berubah hening ketika matahari tenggelam, Senin malam.Gelap menyelimuti tenda-tenda pengungsian akibat belum adanya aliran listrik. Namun, di tengah keterbatasan itu, tawa dan canda justru menjadi cara warga saling menguatkan.Anak-anak yang sejak pagi hingga sore bermain di sekitar tenda pengungsian memilih masuk lebih awal ketika malam tiba. Ketiadaan penerangan membuat mereka enggan berlama-lama di luar.Sementara orang dewasa berkumpul di depan pintu tenda, duduk berdekatan sambil berbincang dalam remang cahaya. Obrolan ringan hingga kekhawatiran tentang masa depan mengalir di antara mereka.Baca juga: Universitas Jember Kirim 12 Relawan Medis ke Aceh Tamiang untuk Bantu Korban Banjir“Mau ke mana pak? Gelap-gelap,” sapa Hafiz (68), salah satu pengungsi, sambil tersenyum dan tertawa kecil saat melihat tim Kompas.com melintas.Percakapan pun mengalir bersama Hafiz, anak-anaknya, dan tetangga yang duduk di luar tenda. Candaan sesekali memecah sunyi malam.“Ya begini lah. Kondisi di pengungsian untuk sementara ini kami dalam kegelapan,” ucap Qadri (34), anak Hafiz.Menurut Qadri, selama lebih dari dua pekan tinggal di pengungsian, warga belum mendapatkan penerangan listrik, baik di sekitar tenda maupun jalan.Akibatnya, pengungsi hanya mengandalkan lampu teplok berbahan bakar minyak.“Posisinya dari PLN janji nya seminggu. Tapi nyatanya 2 minggu lebih sampai saat ini belum ada juga listrik sampai sekarang. Makanya kami masih pakai lampu teplok minyak,” tuturnya.Ia berharap penerangan segera terpasang, setidaknya untuk jalan di sekitar pengungsian.“Tidak usah untuk tenda, tapi untuk penerangan jalan aja. Jadi biar ada cahaya untuk kita di sini,” katanya.Kondisi gelap membuat ruang gerak anak-anak semakin terbatas. Mereka biasanya hanya bermain pada pagi hingga sore hari.“Gelap gini ya anak-anak enggak berani juga main jauh-jauh,” ujar Hafiz sambil tertawa.Pantauan Kompas.com pada Senin siang menunjukkan suasana berbeda. Anak-anak tampak berlarian di sekitar tenda. Sebagian mengerumuni relawan yang datang membagikan makanan ringan dan susu.


(prf/ega)