8 Juta Anak Indonesia Memiliki Darah Mengandung Timbal Melebihi Batas WHO

2026-02-02 15:09:04
8 Juta Anak Indonesia Memiliki Darah Mengandung Timbal Melebihi Batas WHO
JAKARTA, - Data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) tahun 2021 mengungkapkan, 8 juta anak Indonesia diperkirakan memiliki kadar timbal dalam darah di atas 5 mikrogram per desiliter. Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Wahyu Pudji Nugraheni, mengatakan angka itu melebihi ambang batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)."Hasil kajian literatur review penyakit atau gangguan yang disebabkan atau diperparah paparan timbal pada anak ada tujuh yang kami berhasil kumpulkan. Pertama, penurunan kemampuan kognitif atau kehilangan IQ, neurodevelopmental impairment," ujar Pudji dalam webinar, Kamis .Dampak kedua, gangguan perkembangan dan keterlambatan perkembangan. Kemudian, gangguan perilaku, masalah perhatian, stunting dan hambatan pertumbuhan, anemia atau gangguan hematologi, kerusakan ginjal, gangguan fungsi ginjal, nephrotoxicitas, hingga risiko kardiovaskuler jangka panjang, termasuk hipertensi di masa dewasa.Baca juga: Tingkat Konsentrasi Timbal di Udara Berdampak pada Kematian BayiBerdasarkan analisis data Global Burden of Disease (GBD) 2023, beban penyakit akibat timbal terus meningkat sejak 1990 hingga 2023."Hal ini menandakan bahwa beban penyakit akibat paparan timbal cenderung memburuk dalam tiga dekade terakhir," tutur dia.BRIN menggunakan pendekatan Disability Adjusted Life Years (DALYs) untuk mengestimasi beban penyakit akibat paparan timbal. Menurut Pudji, di Asia Tenggara, Indonesia menempati posisi kedua tertinggi setelah Myanmar terkait DALYs akibat paparan timbal.Angkanya meningkat tajam sejak awal 2000-an, menunjukkan bahwa paparan timbal pada anak di dalam negeri menjadi isu kesehatan masyarakat yang makin serius. Kendati bukan merupakan penyebab utama, timbal turut meningkatkan risiko jantung iskemik maupun penyakit yang berkaitan dengan saraf."Sepanjang 1990 hingga 2023, penyakit jantung iskemik dan stroke tetap menempati peringkat pertama dan kedua sebagai penyakit dengan beban tertinggi akibat papanan timbal," jelas Pudji.Baca juga: Mayoritas Penduduk Negara Berpenghasilan Menengah Rasakan Dampak Krisis Iklim"Hal ini menunjukkan bahwa timbal berkontribusi besar terhadap peningkatan risiko gangguan pembuluh darah dan jantung melalui mekanisme peningkatan tekanan darah, stres oksidatif, dan kerusakan endotel pembuluh darah," imbuh dia.Beban penyakit akibat timbal juga menyebabkan pola peningkatan pada kelompok usia lanjut. Dampak paparan jangka panjang mulai terlihat signifikan sejak usia 40 tahun, dan mencapai puncaknya pada kelompok usia 95 tahun ke atas."Dampak paparan timbal bersifat kumulatif dan progresif dimana efek toksik jangka panjang semakin memperparah kondisi kesehatan lansia yang sudah rentan," tutur Pudji.Secara global, paparan timbal diperkirakan menyebabkan 1 juta kematian per tahun dengan beban terbesar berada di negara berkembang. Dampak jangka panjang pada anal berupa penurunan IQ dan gangguan perilaku, bersifat irreversibel atau tak bisa kemballi normal, dan mempengaruhi produktivitas.Studi internasional memperkirakan kerugian ekonomi akibat paparan timbal dapat mencapai 1-3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara berkembang."Di Indonesia, penelitian tentang beban ekonomi spesifik akibat paparan timbal pada anak masih sangat berbatas. Penelitian ini diperlukan untuk memberikan evidence-based policy support dalam upaya perlindungan anak dari paparan timbal," ungkap Pudji.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-02-02 14:53