- Selama ini, pendidikan anak usia dini (PAUD) sering kali terjebak pada pengenalan akademik dasar, seperti baca, tulis, dan hitung (calistung). Padahal, untuk menghadapi tantangan abad ke-21 yang semakin kompleks, anak-anak membutuhkan fondasi yang lebih mendasar, yakni kemampuan berpikir kritis, sistematis, dan kreatif.“Pendekatan ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi menjadi tidak memadai ketika dihadapkan pada tantangan abad ke-21 yang jauh lebih kompleks,” kata anggota ECED Council Nita Priyanti, dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa .Menurut Nita, dunia saat ini menuntut individu yang sejak dini terbiasa memahami masalah, mencari pola, dan menyusun solusi secara logis.Kemampuan tersebut, kata dia, tidak muncul secara instan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.Baca juga: Kemendikdasmen: 78 Persen Anak yang Masuk PAUD Lebih Punya Kesiapan KognitifSebaliknya, kemampuan itu perlu ditumbuhkan sejak awal ketika cara berpikir anak masih lentur dan rasa ingin tahunya sedang berada pada puncaknya. “Di sinilah pentingnya menggeser fokus pembelajaran PAUD, dari sekadar penguasaan konten menuju penguatan cara berpikir,” ujar Nita.Salah satu pendekatan yang kini semakin mendapat perhatian dalam pendidikan global adalah berpikir komputasional (computational thinking).Konsep tersebut memang berakar dari ilmu komputer, tetapi dalam perkembangannya diakui sebagai keterampilan berpikir lintas disiplin yang relevan untuk semua jenjang pendidikan, termasuk PAUD. Berpikir komputasional bukan tentang anak belajar komputer atau teknologi digital sejak dini, melainkan tentang bagaimana anak belajar memahami masalah, menguraikannya, mengenali pola, dan menyusun langkah penyelesaian secara logis.Baca juga: Kemendikdasmen: 78 Persen Anak yang Masuk PAUD Lebih Punya Kesiapan KognitifNita menyebutkan, berpikir komputasional dapat diperkenalkan kepada anak usia dini secara kontekstual, menyenangkan, dan selaras dengan prinsip belajar melalui bermain.Hal tersebut diketahui berdasarkan pengalaman Nita memimpin Workshop Implementasi Computational Thinking melalui Eduplay bagi guru PAUD yang difasilitasi bersama oleh Irma Yuliantina dan Ali Mulyanto.Nita mengatakan, konsep berpikir komputasional terdengar teknis, tetapi sebenarnya sangat dekat dengan keseharian anak. “Istilah computational thinking sering terdengar teknis dan kerap menimbulkan kekhawatiran: jangan-jangan konsep ini terlalu abstrak atau ‘berat’ bagi anak usia dini. Kekhawatiran ini wajar, tetapi tidak sepenuhnya tepat,” jelasnya.Jeanette Wing (2006) mendefinisikan berpikir komputasional sebagai cara berpikir dalam memformulasikan masalah dan solusi sehingga solusi tersebut dapat dijalankan secara sistematis. Baca juga: Banjir Limpasan Terjang Sukabumi, Madrasah Diniyah hingga Paud Terendam Definisi tersebut tidak menuntut penggunaan perangkat digital, melainkan menekankan pada proses berpikir.Secara umum, berpikir komputasional mencakup empat komponen utama yang sesungguhnya sangat dekat dengan keseharian anak, yang terdiri dari: Nita menyampaikan, ketika anak mengelompokkan mainan berdasarkan warna atau bentuk, ia sedang melatih pengenalan pola. Saat anak menyusun urutan langkah mencuci tangan atau mengenakan sepatu, ia sedang merancang algoritma sederhana.
(prf/ega)
Bukan Belajar Komputer, Ini Cara PAUD Menerapkan Berpikir Komputasional
2026-01-12 06:39:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:36
| 2026-01-12 05:52
| 2026-01-12 05:43










































