Kengerian di Puskesmas Koto Alam: Orang Berlumpur Berdatangan, Mayat Pun Jua

2026-01-13 07:19:56
Kengerian di Puskesmas Koto Alam: Orang Berlumpur Berdatangan, Mayat Pun Jua
AGAM,  - Malam itu mencekam. Hujan turun deras. Orang-orang berlumuran lumpur berdatangan. Mayat-mayat digeletakkan di lorong-lorong puskesmas."Tolong, Bu. Tolong, Bu," teriak keluarga pasien terdengar dari arah depan.Mereka yang luka-luka datang. Ada yang luka parah di kepala. Ada yang luka di dagu. Bahkan, ada yang patah tulang. Semua diantar oleh keluarga dan sanak saudaranya.Luka-luka menganga yang terkena lumpur dibersihkan dengan cairan Natrium klorida (NaCl). Luka kemudian dijahit.Mereka menghabiskan malam di luar dan dalam puskesmas. Semua berdoa supaya situasi baik-baik saja.Baca juga: Kisah Para Mahasisiwi Unpad, Tinggalkan Kuliah demi Jadi Relawan SAR Banjir Agam/WAHYU ADITYO PRODJO Fetri Yuherna (52), bidan di Puskesmas Koto Alam, Nagari Salareh Aia Timur, Palembayan, Agam, Sumatera Barat menceritakan pengalamannya bertugas saat banjir bandang terjadi pada Senin sore. Ia bersama tiga rekannya berjibaku menangani puluhan pasien korban banjir bandang yang datang tak henti-hentinya hingga subuh.Fetri Yuherna (52) tak menyangka ada di dalam kondisi semengerikan itu sepanjang hidupnya. Pikirannya kalut. Kekhawatirannya tak bisa dibendung saat mengetahui ada banjir bandang yang melanda kampungnya pada Kamis sore.Fetri merupakan salah satu bidan di Puskesmas Koto Alam. Pada hari banjir bandang terjadi, Fetri dan rekannya, Husma (39) sebagai perawat, bertugas shift siang di puskesmas. Jam kerjanya dimulai pukul 13.30 hingga pukul 20.30 WIB.Jelang banjir maut itu datang, teleponnya berdering."Ada gelondongan kayu besar, ada kejadian kah, Bu?" tanya seseorang dari daerah Alahan Anggang, tak jauh dari Jorong Subarang Aia di Nagari Salareh Aia Timur, Palembayan, Agam, Sumatera Barat.Awalnya, Fetri menjawab tak ada yang terjadi. Lima menit setelahnya, suara gemuruh terdengar di telinga Fetri. Kengerian dimulai.Saat itu, ada beberapa pasien yang dirawat di Puskesmas Koto Alam. Mereka ketakutan. Fetri berusaha menenangkannya.Baca juga: Bupati Aceh Selatan Umrah Saat Bencana: Disindir Prabowo, Disuruh Pulang Mendagri/WAHYU ADITYO PRODJO Ruang tunggu pasien di Puskesmas Koto Alam, Nagari Salareh Aia Timur, Palembayan, Agam, Sumatera Barat pada Senin siang. Dari arah Jorong Kayu Pasak, orang-orang berlarian di jalan yang menanjak.Fetri bertanya, "Ada apa?""Air naik," jawab orang-orang yang panik.Pikirannya langsung mengarah ke keluarganya. Ia langsung mengeluarkan dan memacu motornya ke arah rumahnya di Jorong Koto Alam, sekitar dua kilometer dari puskesmas."Pergilah saya ke tempat kejadian di atas naik motor. Sampai di sana, galodo (banjir bandang) itu sudah ada. Batu, kayu sudah bergelimpangan. Rumah orang sudah bergelimpangan di jalan," kenang Fetri saat ditemui di Puskesmas Koto Alam, Senin sore.Ia memutar balik dan kembali ke arah puskesmas. Dahlia rekannya, ternyata juga khawatir dan mengecek kondisinya keluarganya.Dok. Istimewa Mayat-mayat ditutupi kain di Puskesmas Koto Alam, Nagari Salareh Aia Timur, Palembayan, Agam, Sumatera Barat pada Jumat . Puskesmas Koto Alam menjadi salah satu tempat evakuasi mayat korban banjir bandang yang menghantam wilayah Palembayan.Di puskemas, pasien-pasien Fetri mulai datang. Pasien pertama adalah seorang perempuan mengalami luka parah di bagian kepala akibat terhantam material banjir bandang.Saat itu, listrik putus. Aliran listrik di puskesmas langsung berganti mode darurat menggunakan genset.


(prf/ega)