Cerita Dayat 30 Tahun Jadi Petugas Damkar Situbondo, Evakuasi Buaya yang Paling Ekstrem

2026-01-16 03:13:31
Cerita Dayat 30 Tahun Jadi Petugas Damkar Situbondo, Evakuasi Buaya yang Paling Ekstrem
SITUBONDO, - Dayat (50), selaku Kasubag Umum Damkar Situbondo Provinsi Jawa Timur dan petugas yang lain cukup senang karena banyak masyarakat mulai percaya terhadap profesi pemadam kebakaran (damkar)."Dulu damkar sempat dipandang sebelah mata, sekarang alhamdulillah kami disenangi masyarakat," katanya saat berbincang dengan Kompas.com Selasa .Menurut Dayat, profesionalisme adalah nomor satu bagi petugas damkar. Untuk itu, apa pun tugasnya, damkar selalu siap turun ketika menerima laporan dari masyarakat melalui media sosial.Apalagi, jika laporan yang masuk terkait dengan peristiwa kebakaran, evakuasi ular dan reptil berbahaya yang lain."Semua laporan kami tindak lanjuti, kami ada shift (pergantian) petugas malam dan pagi," ujar Dayat.Baca juga: Jadi Andalan Warga, Damkar Surabaya: Setiap Detik BerhargaMembantu dengan sepenuh hati, Dayat mengatakan, tak selalu hasil kerja damkar diapresiasi oleh masyarakat.Dia mengungkapkan, komplain biasanya datang dari peristiwa kebakaran lantaran si jago merah menjalar sangat cepat.Sementara itu, menurut Dayat, petugas damkar kerap mengalami kesulitan menuju lokasi kebakaran atau menjangkau area yang terbakar. Dayat mencontohkan, kemacetan dan banyaknya kendaraan parkir tidak pada tempatnya, kerap membuat petugas damkar kehabisan waktu di jalan.Belum lagi, jika kebakaran terjadi di area padat penduduk dengan gang yang sempit, mobil damkar pasti mengalami kendala untuk menjangkau lokasi."Terkadang ada juga kami dikomplain (diprotes) karena dinilai lambat, kami akui kami salah karena kurang cepat, kendalanya biasanya macet, jarak sangat jauh dan ketika kebakaran di rumah gang sempit itu parkiran motor menyulitkan kami, dan ketika itu terjadi saya memberi penjelasan, setelah kami beri penjelasan mereka biasanya menerima," katanya.Baca juga: Risiko Jadi Petugas Damkar, Tertimpa Mesin Jahit sampai Runtuhan BangunanNamun, Dayat memastikan bahwa petugas damkar selalu siap membantu semua kesulitan masyarakat.Dia pun menceritakan salah satu pengalaman yang cukup menguji adrenalin selama hampir 30 tahun menjadi anggota Damkar Situbondo.Pada 2022, Dayat ikut dalam upaya mengevakuasi buaya di Kecamatan Panji Kabupaten Situbondo."Buayanya cukup besar sekitar 4 meter, itu dipelihara warga. Saat pemiliknya pindah ke Jember, sempat minta bantu ke BKSDA Jatim namun respons lama, akhirnya buaya itu diminta untuk dievakuasi ke kami, ya sebagai petugas kami jalankan tugas namun sambil ada rasa takut," kenangnya.Baca juga: Cerita Petugas Damkar Surabaya, Evakuasi Ayam hingga Lerai Pertengkaran Mantan Pacar


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-16 03:10