Dua Desa di Pati Rebutan Jalan, 338 Personel Gabungan Dikerahkan

2026-01-13 00:53:52
Dua Desa di Pati Rebutan Jalan, 338 Personel Gabungan Dikerahkan
PATI, - Konflik batas wilayah antara Desa Tambaharjo dan Desa Payang meruncing. Kedua pihak berselisih soal status jalan desa. Sebanyak 338 personel gabungan diterjunkan untuk pengamanan.Sengketa yang berkepanjangan itu memuncak saat Pengadilan Negeri Pati Kelas I A melakukan pemeriksaan setempat (PS) pada Rabu , disaksikan ratusan warga yang memadati lokasi.Jalan yang kini dipersoalkan diklaim oleh warga Desa Payang sebagai lahan peninggalan nenek moyang mereka dengan panjang 450 meter.Namun, berdasarkan peta administrasi terbaru, jalur tersebut masuk dalam wilayah Desa Tambaharjo.Perbedaan dasar klaim inilah yang membuat kedua desa itu berada dalam ketegangan.Baca juga: DPRD Pati Ogah Teken Dukungan Rekonsiliasi Botok Cs dan Sudewo, AMPB: Ada Masukan DemoKepala Desa Tambaharjo, Sugiyono atau Yoyong, menegaskan bahwa semua dokumen resmi, mulai peta wilayah, Peta PUPR hingga Peta BPN mendukung bahwa jalan tersebut berada di wilayah Tambaharjo.“Sebodoh-bodohnya kepala desa itu pasti tahu peta wilayah. Dan ini masuk Tambaharjo. Peta wilayah kami pasang di kantor desa, silakan dicek,” ujarnya.Yoyong menjelaskan bahwa persoalan jalan ini bukan muncul saat dirinya menjabat.Konflik sudah mengemuka sejak 2020-2021, dipicu persoalan penebangan pohon randu di sepanjang jalan.Ia juga mengaku telah melakukan mediasi, mulai dari tingkat Setda hingga kepolisian, namun semuanya berakhir tanpa titik temu.Baca juga: Anggota DPRD Pati Dilaporkan ke Polisi Soal Dugaan PenipuanKini, sengketa itu dibawa ke ranah perdata di PN Pati.“Saya siap menunjukkan semua data sah yang dimiliki Desa Tambaharjo. Harapan saya, hakim memberi putusan tanpa intimidasi dari pihak mana pun, demi menghindari gejolak antarwarga," terangnya.Ia menyebutkan bahwa sejak masa lampau, warga Payang menanam pohon randu di sisi kanan-kiri jalan, bahkan hasil penjualannya masuk sebagai Pendapatan Asli Desa (PAD).Ia juga menyoroti bahwa sejak dulu warga Tambaharjo tidak pernah turut serta dalam perawatan jalan.“Kalau wilayah memang Tambaharjo. Tapi yang merawat beratus-ratus tahun itu Payang," kata dia.


(prf/ega)