Harga Buku, Subsidi Buku, dan Tantangan Minat Baca

2026-01-12 03:39:53
Harga Buku, Subsidi Buku, dan Tantangan Minat Baca
Benarkah rendahnya minat baca masyarakat lebih disebabkan oleh kurangnya kemauan atau justru karena harga buku yang kian sulit dijangkau?Minggu sore di pertengahan bulan, saya menyempatkan diri berkunjung ke sebuah toko buku di pusat perbelanjaan pinggiran Kota Bogor.Agenda ini sudah menjadi rutinitas kecil yang selalu saya nantikan. Beberapa judul buku telah saya catat sebelumnya—mulai dari novel, buku pengembangan diri, hingga bacaan pengetahuan yang berkaitan dengan bidang yang saya tekuni, agribisnis pertanian.Saya sebenarnya sudah melakukan riset harga. Namun, ketika melihat langsung label harga di rak-rak buku, ada rasa terkejut yang tak bisa disembunyikan.Beberapa judul ternyata lebih mahal dibandingkan harga yang saya temukan di toko buku daring. Seketika muncul pertanyaan di benak: apakah ini sekadar perbedaan jalur distribusi, atau memang harga buku kini semakin melambung?“Sekarang harga buku sudah naik ya, Mas. Rasanya seperti harga cabai menjelang akhir tahun,” celetuk saya kepada penjaga toko, setengah bercanda.Dalam hati, saya bertanya-tanya, mungkinkah rendahnya minat baca di negeri ini bukan semata karena orang enggan membaca, melainkan karena harga buku kian menjauh dari jangkauan banyak orang?Harga Literasi dan Realitas Daya BeliPengalaman sederhana di toko buku itu membuka kembali diskusi lama tentang literasi dan akses. Buku bukanlah barang murah.Rantai produksinya panjang dan kompleks: mulai dari harga kertas yang fluktuatif, biaya cetak, hingga distribusi yang tidak sedikit. Semua itu akhirnya bermuara pada harga jual yang relatif tinggi.Bagi sebagian masyarakat dengan penghasilan terbatas, buku pun tergeser dari daftar kebutuhan.Dalam kondisi seperti ini, pilihan terhadap buku bajakan kerap muncul—bukan karena tidak menghargai karya penulis, tetapi karena perbedaan harga yang terlalu jauh. Di titik inilah persoalan literasi bertemu langsung dengan daya beli.Seorang pegiat literasi pernah membuat perumpamaan yang cukup menggelitik: di beberapa negara, harga buku setara dengan secangkir kopi, sementara di Indonesia, satu buku bisa setara dengan beberapa cangkir kopi berkualitas.Perbandingan ini memang sederhana, tetapi cukup menggambarkan jarak antara niat membaca dan kemampuan membeli.Subsidi Buku sebagai Jembatan Akses


(prf/ega)