Calon Kades Indramayu Gebrak Meja di Depan Panitia, Cium Dugaan Kecurangan Pilkades

2026-01-12 06:27:53
Calon Kades Indramayu Gebrak Meja di Depan Panitia, Cium Dugaan Kecurangan Pilkades
INDRAMAYU, - Para bakal calon kepala desa atau kuwu melakukan protes hingga menggebrak meja saat audiensi dengan pemeritah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin . Protes ini dilakukan pasca pemilihan kepala desa atau pemilihan kuwu (Pilwu) di Indramayu berlangsung dengan dugaan kecurangan. Mereka berbondong-bondong mendatangi kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Indramayu dengan membawa sejumlah bukti kecurangan.Baca juga: BLTS Kesra Rp 900.000 di Indramayu Cair, Warga Diimbau Jangan Gunakan untuk JudolPantauan Kompas.com di lokasi, ada enam orang perwakilan kepala desa yang datang untuk audiensi.Pertemuan pun berlangsung alot, terdengar pula suara gebrakan meja dari dalam ruangan.Salah seorang bakal calon kepala desa Akhmad Zaenuri mengatakan, dugaan rekayasa nilai yang dilakukan panitia sangat jelas terlihat. “Ini ada nilai-nilai yang hilang, ini yang menjadi polemik, dari sini mengakibatkan beberapa calon kepala desa pada akhirnya digunting (tidak lolos),” kata Zaenuri di lokasi.Baca juga: Makam Tanpa Nama di TPU Nyi Resik Indramayu: Tempat Peristirahatan Mereka yang Tak Pernah DicariZaenuri sendiri menunjukkan soal hasil nilai tes tertulis yang didapatnya, hasilnya ia mendapat nilai tes paling tinggi, tapi di tes wawancara nilainya justru anjlok menjadi paling rendah hingga membuatnya tidak lolos. Padahal saat menjalani tes wawancara, Zaenuri merasa semua lancar dan tidak ada hambatan. Lain halnya dengan bakal calon yang nilai tes tertulisnya anjlok bahkan di bawah rata-rata, kata Zaenuri, ketika tes wawancara nilainya malah melejit menjadi paling tinggi walau yang bersangkutan tidak pandai dalam berargumentasi. Baca juga: Makam Tanpa Nama di TPU Nyi Resik Indramayu: Tempat Peristirahatan Mereka yang Tak Pernah Dicari “Ini aneh, dia bisa mengalahkan lima sarjana (calon lainnya) loh, ini yang jadi pertanyaan kami ada apa. Kami pun menduga di sini ada indikasi pesanan,” terangnya. Kejanggalan lainnya adalah adanya skema penilaian yang tiba-tiba berubah tanpa adanya sosialisasi terlebih dahulu, yakni soal bobot nilai. Sebelumnya, bobot nilai untuk ujian tertulis sebesar 60 persen dan wawancara 40 persen. Tapi tiba-tiba diubah. Di sisi lain, penjelasan dari panitia dalam audiensi itu diketahui perubahan dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya agar mendongkrak nilai rata-rata para bakal calon kepala desa. Mengingat pada pemilihan kepala desa sebelumnya, nilai para calon anjlok di tes ujian tertulis.


(prf/ega)