BOGOR, — Berdiri di salah satu ruas jalan tertua di Kota Bogor, bangunan SMP Negeri (SMPN) 2 Bogor menyimpan sejarah panjang dunia pendidikan yang berawal sejak masa kolonial Belanda.Di balik dinding putih, jendela besar, dan atap tua bergaya Eropa, sekolah ini tidak hanya menjadi tempat belajar bagi generasi masa kini, tetapi juga menyimpan jejak perjalanan pendidikan bagi kaum bumiputra pada awal abad ke-20.Bangunan ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Keputusan Menteri Pariwisata dan Kebudayaan pada 2007.Baca juga: Menara Saidah, Bayangan Kemegahan yang Terbengkalai di Tengah Megaproyek JakartaStatus itu diberikan karena nilai sejarah dan fungsi pendidikan yang melekat kuat pada gedung tersebut.SMPN 2 Bogor tidak sekadar gedung lama, ia adalah saksi perjalanan sistem pendidikan Bogor pada zaman Hindia Belanda.Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bogor, Taufik Hassunna, menjelaskan bahwa kompleks sekolah ini sejak awal memang dibangun sebagai pusat pendidikan pada era kolonial.“Tiga sekolah itu berdampingan. Holland Inlandsche School itu SD Pengadilan 1 di sebelahnya itu Holland Europe School, SD Pengadilan 2. Dan di sebelahnya lagi MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). MULO itu SMPN 2 sekarang," kata Taufik kepada Kompas.com, Senin .Hafizh Wahyu Darmawan Lorong kelas SMPN 2 Bogor Menurut Taufik, pendirian MULO pada masa Belanda merupakan bagian dari kebijakan edukasi kolonial untuk membuka akses pendidikan lebih luas, termasuk kepada kalangan bumiputra.“Kalau Mulo itu bisa juga dari kalangan pribumi. Jadi memang semua lintas ras bisa masuk ke situ. Itu kan sebetulnya produk kebijakan ETS Belanda untuk membuka ruang, membuka kesempatan kepada pribumi dan kelompok lain untuk juga mempunyai akses ke pendidikan," kata dia.Gedung SMPN 2 Bogor saat ini masih mempertahankan bentuk dan struktur dasar dari bangunan MULO.Dinding-dindingnya, jendela besar, serta tata letak ruang yang luas dan berlangit-langit tinggi menjadi ciri khas bangunan kolonial.Sejarah panjang SMPN 2 Bogor tidak berhenti pada masa kolonial Belanda. Memasuki masa pendudukan Jepang, gedung-gedung sekolah di seluruh Indonesia mengalami perubahan fungsi.Baca juga: Ketika Becak Tak Lagi Raja Jalanan, tapi Penjaga Tradisi Kota BogorSetelah perang usai, kegiatan pendidikan sempat terhenti cukup lama.Taufik menegaskan bahwa perjalanan MULO hingga menjadi SMP Negeri 2 Bogor seperti saat ini tidak terjadi dalam waktu singkat.Hafizh Wahyu Darmawan Ruang guru di SMPN 2 Bogor “Hampir se-Indonesia itu sama, karena kemudian ketika diambil alih Jepang, institusi pendidikan itu tentu mengalami banyak perubahan, banyak aturan. Kemudian ada yang dipakai untuk menjadi tempat pendidikan baru dengan kurikulum berbeda, ada juga yang kemudian tidak difungsikan," ungkap dia.
(prf/ega)
Tapak Tilas SMPN 2 Bogor, Sekolah Peninggalan Kolonial yang Jadi Cagar Budaya
2026-01-12 05:12:48
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:30
| 2026-01-12 04:40
| 2026-01-12 03:42
| 2026-01-12 03:21










































