JAKARTA, - Para ekonom menilai perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal III 2025 menjadi sinyal melemahnya daya beli masyarakat.Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat pada kuartal III 2025.Meskipun pertumbuhan ekonomi periode ini mencapai 5,04 persen, meningkat dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,95 persen, angka tersebut menunjukkan tren pelambatan dari kuartal sebelumnya yang sebesar 5,12 persen.Turunnya pertumbuhan ekonomi ini, menurut Huda, disebabkan oleh konsumsi rumah tangga yang mengalami penurunan dari 4,97 persen pada kuartal sebelumnya menjadi hanya tumbuh 4,89 persen.Baca juga: Ekonomi Indonesia Kuartal III-2025 Tumbuh 5,04 Persen, Didorong Ekspor dan Konsumsi DomestikSementara itu, konsumsi rumah tangga menjadi komponen terbesar yang berkontribusi terhadap pembentukan pertumbuhan ekonomi, yakni sebesar 53 persen.Lesunya daya beli masyarakat pada periode ini juga tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia (BI) pada September 2025 yang tercatat 115, menunjukkan bahwa keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi mengalami sedikit penurunan dari bulan sebelumnya yang sebesar 117,2."Artinya, daya beli rumah tangga Kuartal III lebih buruk dibandingkan awal tahun," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Rabu .Menurutnya, ada kejanggalan pada pertumbuhan ekonomi kali ini karena meskipun konsumsi rumah tangga melemah, pertumbuhan ekonomi tetap relatif tinggi di atas 5 persen.Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan distorsi dalam komponen lain pembentuk PDB yang perlu dicermati lebih dalam.Senada, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M.Rizal Taufikurrahman menilai, konsumsi rumah tangga yang mengalami penurunan pada kuartal III 2025 menunjukkan daya beli yang masih lesu. "Daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya, terutama di lapisan menengah bawah, sehingga pertumbuhan kali ini lebih banyak bersumber dari faktor kebijakan fiskal dan eksternal, bukan penguatan permintaan domestik," ucap Rizal kepada Kompas.com, Rabu.Dia menjelaskan, tekanan biaya hidup dan stagnasi upah riil menjadi faktor utama yang menahan laju konsumsi masyarakat, meskipun inflasi relatif terkendali sepanjang tahun ini.Oleh karenanya, Rizal menilai pemerintah perlu memperkuat strategi fiskal yang berorientasi langsung pada penguatan daya beli."Pemerintah perlu memperkuat daya beli dengan menjaga stabilitas harga pangan dan energi, mempercepat realisasi belanja sosial dan padat karya, serta memberikan insentif fiskal terarah bagi sektor yang padat tenaga kerja dan konsumsi lokal," kata dia.Rizal menambahkan, kebijakan fiskal sebaiknya lebih difokuskan pada pengeluaran yang berdampak langsung terhadap ekonomi rumah tangga, bukan semata proyek besar yang efeknya terbatas terhadap konsumsi.Baca juga: Ekonom Soroti Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal III 2025, Ada Apa?
(prf/ega)
Ekonom Sebut Ekonomi RI Kuartal III 2025 Melambat, Indikasi Daya Beli Masyarakat Melemah?
2026-01-12 05:01:58
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:54
| 2026-01-12 04:26
| 2026-01-12 04:01
| 2026-01-12 03:26
| 2026-01-12 03:25










































