JAKARTA, - Dengan melepas seluruh kepemilikan sahamnya pada emiten terakhir yang masih berada di bawah naungannya, PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO), Grup Sampoerna akhirnya hengkang dari pasar modal Indonesia.Langkah itu sekaligus menutup perjalanan panjang keluarga Sampoerna di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang telah berlangsung sejak awal dekade 1990-an.Hengkangnya Grup Sampoerna dengan melepas SGRO dipublikasikan dalam Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis, . Sementara perseroan menerima pemberitahuan resmi mengenai perpindahan saham tersebut pada 19 November 2025.Aksi korporasi tersebut ditandai dengan perpindahan 1.195.217.500 saham SGRO, setara 65,721 persen modal disetor, dari Twinwood Family Holdings Limited kepada AGPA Pte. Ltd., anak usaha Posco International Corporation. Baca juga: Grup Sampoerna Lepas Sampoerna Agro ke Anak Usaha POSCO InternationalBerdasarkan sumber resmi yang dihimpun Kompas.com, SGRO memiliki jejak historis yang kuat dengan keluarga Sampoerna. SGRO merupakan perusahaan perkebunan yang didirikan pada 7 Juni 1993 dengan nama PT Selapan Jaya. Perusahaan kemudian berganti nama menjadi PT Sampoerna Agro pada 2007, setelah diakuisisi Grup Sampoerna Strategic. Bersama dengan anak-anak usahanya, Sampoerna Agro membangun bisnis perkebunan yang terintegrasi dengan fokus pada prinsip keberlanjutan jangka panjang.Sampoerna Agro melantai di pasar modal, yang saat itu masih bernama Bursa Efek Jakarta (BEJ), pada 18 Juni 2007. Kala itu sebanyak 1,890 miliar saham yang dilepas ketika IPO. Sedangkan jumlah saham yang dilepas ke publik sebanyak 461.350.000 saham (24,41 persen) dengan nilai nominal Rp 200 per saham. Harga saham yang dilepas ke publik sebesar Rp 2.340 per saham dengan jumlah dana diperoleh dari IPO Rp 1,079 triliun.Baca juga: Diambil Alih Posco Group, Ini Kata Sampoerna Agro (SGRO)Kendati begitu, hubungan Group Sampoerna dengan pasar modal jauh lebih tua. PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) merupakan perusahaan pertama grup tersebut yang mencatatkan sahamnya di pasar modal pada 15 Agustus 1990 dengan menawarkan 27 juta saham kepada publik. Selain itu, terdapat 18 juta saham pendiri, sehingga total saham yang terdaftar saat IPO mencapai 45 juta saham. Dengan porsi penawaran publik sebesar 60 persen, perusahaan mematok harga penawaran Rp 12.600 per saham.Perjalanan HMSP mengalami perubahan besar pada 10 Maret 2005. Pada tanggal itu, perusahaan rokok asal Amerika Serikat, Philip Morris International Inc. (PMI), mengambil alih 40 persen saham milik Sampoerna, sementara 57,5 persen saham yang dipegang investor publik melalui mekanisme tender offer.Aksi korporasi ini menandai berakhirnya kiprah keluarga Sampoerna dalam bisnis rokok yang selama puluhan tahun menjadi usaha utama mereka.Saat ini, HMSP berstatus sebagai anak perusahaan PT Philip Morris Indonesia (PMID) dan berafiliasi langsung dengan PMI.Di luar SGRO dan HMSP, Grup Sampoerna juga pernah memiliki 10 persen saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) sebelum melepasnya ke Grup Northstar pada 2006.Dengan rampungnya penjualan SGRO kepada AGPA, seluruh jejak kepemilikan Grup Sampoerna di pasar modal Indonesia kini resmi berakhir, menutup babak penting perjalanan salah satu konglomerasi terbesar Indonesia dalam tiga dekade terakhir.Baca juga: Kinerja Kuartal III 2025 Bank Sampoerna Ditopang Kredit UMKMPresiden Direktur Grup Sampoerna, Bambang Sulistyo, menjelaskan penjualan tersebut merupakan langkah strategis untuk memfokuskan sumber daya pada lini bisnis lain. Ia menilai Posco International sebagai pihak yang tepat untuk membawa SGRO memasuki fase pertumbuhan baru.
(prf/ega)
Grup Sampoerna Hengkang dari Pasar Modal RI, Akhiri Tiga Dekade Kiprah di Bursa
2026-01-12 03:29:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:32
| 2026-01-12 02:40
| 2026-01-12 02:28
| 2026-01-12 02:24
| 2026-01-12 01:25










































