Kisah Ayah Selamatkan Anak Pakai Kapal Mainan Saat Banjir Medan, Terisolasi Tanpa Makanan

2026-02-02 18:51:27
Kisah Ayah Selamatkan Anak Pakai Kapal Mainan Saat Banjir Medan, Terisolasi Tanpa Makanan
MEDAN, - Dean Ramadhana, salah satu warga terdampak banjir di Medan, Sumatera Utara masih ingat betul bagaimana detik-detik air menerjang kompleks rumahnya.Saat itu, ia harus menyelamatkan anaknya menggunakan kapal mainan untuk mengungsi ke rumah tetangga. Ia bersama keluarganya juga sempat terisolasi menunggu evakuasi yang tak kunjung tiba.Dean Ramadhana bersama anak, istri, dan ibunya terpaksa mengevakuasi secara mandiri dan menahan lapar selama seharian di rumah berlantai dua milik tetangga.Tempat tinggal Dean berada di salah satu wilayah yang terdampak parah saat banjir melanda Kota Medan pada Kamis pukul 03.00 WIB dini hari.Saat itu, debit air berangsur naik, namun ia sudah tidak bisa bergerak jauh karena Gang Flamboyan Kelurahan Lalang, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan yang hanya seluas 2 meter telah dikepung arus air deras.Baca juga: Banjir di Medan, Distribusi ke SPBU Terlambat, Pertamina Pastikan Stok BBM Tersedia"Awal masuk air ke rumah ini jam 3 subuh, dan kami keluar, air sudah sepinggang saya. Lalu jam 2 sampai 5 sore air sudah mencapai 2 meter," ucap Dean, menunjukkan dinding yang masih lembap.Ketika air sudah sepinggang, dia bersama dua anak, istri, dan ibunya memutuskan pergi ke daerah yang lebih tinggi setelah pukul 07.00.Mereka akhirnya menumpang ke rumah berlantai dua milik warga lain yang ada di Gang Flamboyan.Dia kemudian menaikkan anak ke atas kapal plastik mainan lalu mendorongnya perlahan. Di rumah itu, ternyata bukan hanya Dean, tetapi ada enam kepala keluarga lainnya.Baca juga: Infrastruktur Porak-poranda Imbas Bencana di Sumatera, Bantuan Presiden Dipastikan MengalirDi sana mereka bertahan sejak Kamis pagi hingga Jumat pagi."Selamatkan anak pakai perahu. Kami dorong ke rumah warga sebelah. Di sana kami tinggal. Di sana kami mulai jam 7 pagi sampai 7 pagi lagi, baru bisa keluar. Kami tidak ada makan selama di sana," ujar Dean, menunjukkan perahu anaknya.Dean sangat menyayangkan ketidakhadiran Pemerintah saat dia bersama warga Gang Flamboyan membutuhkan pertolongan."Kemarin kita sayangkan juga, tim SAR tidak ada datang kemari. Satu harian kami tidak melihat tim ke sini," tutur pria berusia 26 tahun itu kepada Kompas.com saat ditemui di rumahnya, Sabtu .Padahal, menurutnya, warga saat itu membutuhkan evakuasi.Baca juga: Warga Medan Keluhkan Bantuan Pemerintah Belum Sampai: Kita Sudah Tak Ada Lagi Makanan"Padahal sangat dibutuhkan mengevakuasi warga. Sampai ini selesai kita tidak ada temukan tim SAR, padahal dekat kantornya di sini. Bantuan evakuasi sangat kurang," ucap Dean.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-02-02 17:59