Fresh Graduate tapi Diminta Pengalaman? Ini Realita Cari Kerja Ala Gen Z

2026-02-04 08:29:50
Fresh Graduate tapi Diminta Pengalaman? Ini Realita Cari Kerja Ala Gen Z
JAKARTA, - Mencari kerja sekarang rasanya seperti mencari jarum di tumpukan jerami, alias susah, capek, dan sering bikin putus asa. Udah capek-capek sekolah, berharap setelah lulus bisa langsung dapet pekerjaan yang layak, eh realitanya malah jauh banget dari ekspektasi.Sebagai fresh graduate, aku ngalamin sendiri gimana ribet dan beratnya cari kerja di Indonesia. Mulai dari bikin CV, scroll lowongan, apply ke sana-sini, lalu ngulang lagi.Tanpa sadar, lamaran yang terkirim udah tembus ratusan, tapi hasilnya masih nihil. Dari yang awalnya semangat 45, pelan-pelan mulai loyo.Jujur aja, aku sering bingung: perusahaan sebenarnya maunya kandidat yang kayak gimana? Proses melamar kerja tuh nguras mental dan energi banget.Baca juga: Menaker Ngaku Jadi Sasaran Pertanyaan “Mana 19 Juta Lapangan Kerja?”Apalagi kalau ketemu lowongan dengan kriteria yang nggak masuk akal, minta pengalaman 1–2 tahun tapi tetap bilang fresh graduate dipersilakan melamar.Bahkan ada yang nyatuin tiga jobdesc sekaligus dalam satu posisi. Excuse me, are you serious?Berangkat dari keresahanku soal lamaran yang nggak kunjung keliatan hilalnya, aku akhirnya ngobrol tipis-tipis sama beberapa temanku.Ternyata, mereka juga lagi berjuang di fase yang sama, dengan cerita dan struggle yang berbeda-beda.Baca juga: Pemerintah Pusat Beri Kode CPNS Dibuka 2026, Fresh Graduate Bisa DaftarFitri, misalnya. Lulus di tahun 2023, ia sempat nggak langsung cari kerja karena memilih fokus persiapan CPNS 2024.Sayangnya, usaha itu belum membuahkan hasil. Dari situ, Fitri mulai serius masuk ke dunia pencarian kerja—dan langsung ketemu realita yang nggak kalah berat.Bahkan untuk posisi magang sekalipun, perusahaan tetap menuntut pengalaman.“Magang aja nggak diterima, apalagi apply kerja,” katanya.Job portal lama-lama jadi “teman akrab” buat Fitri.Baca juga: LPEM UI: Laki-laki Lebih Putus Asa Cari Kerja, Bukan Gagal yang Bikin TumbangSalah satu hal yang paling meresahkan selama proses cari kerja adalah diskriminasi umur. Ada perusahaan yang menganggap usia 25 tahun sudah terlalu tua untuk melamar. Oh my goodness.Menurut Fitri, banyak lowongan kerja di Indonesia yang tuntutannya tinggi, tapi nggak sebanding dengan gaji yang ditawarkan bahkan cenderung underpaid.Sependapat dengan Fitri, Juldan juga merasakan betapa beratnya mencari kerja.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Irwan mengaku bersyukur atas penghargaan yang telah diraih. Ia menekankan bahwa fokus utama perusahaan dimulai dari internal, yaitu kebahagiaan dan kesehatan karyawan, sebelum meluas ke masyarakat.“Ketika saya ditanya dewan juri, saya sampaikan bahwa fokus utama kami adalah membahagiakan dan menjaga kesehatan karyawan terlebih dahulu. Kalau karyawan yang dekat dengan kami saja tidak sehat dan bahagia, bagaimana kami bisa mengurus masyarakat yang lebih luas.” ujar Irwan kepada Kompas.com, Rabu.Irwan menambahkan, penghargaan yang diraih pihaknya  merupakan kerja kolektif seluruh karyawan dan tim.“Persyaratannya sangat banyak, ada 17 goals dan 169 target. Mustahil dicapai tanpa komitmen bersama,” kata Irwan.Pihaknya pun senantiasa mendorong seluruh elemen perusahaan berpartisipasi dalam berbagai upaya pencapaian SDGs, terutama terkait kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan.Baca juga: Anggota Komisi IX DPR Kagumi Standar Produksi Sido MunculSido Muncul juga menegaskan komitmennya untuk membantu program nasional, melalui program penanganan stunting dan tidak mengambil bagian dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).“Kami memilih memberikan bantuan berupa dana agar ibu-ibu bisa membeli kebutuhan gizi yang sesuai. Tahun depan kontribusi kami akan ditingkatkan,” katanya./Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat memegang piala penghargaan Terbaik I kategori Badan Usaha Besar Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 berkat keberhasilan program Smartani. Program Smartani yang mengantarkan Sido Muncul meraih juara pertama merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang mencakup sektor hulu hingga hilir. Program ini telah diinisiasi sejak 2021 dan menyasar kelompok tani di wilayah Semarang.Saat ini, sedikitnya 3.000 petani dan peternak telah mendapat pendampingan dari Sido Muncul.“Di tingkat hilir, kami membina karyawan untuk menjadi distributor. Sekarang ada sekitar 60 hingga 70 distributor yang dulunya karyawan kami dan kini sudah mandiri,” ungkap Irwan.Baca juga: Hadirkan Terang, Sido Muncul Gelar Operasi Katarak GratisManajer Lingkungan Sido Muncul, Amri Cahyono, menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap SDGs diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.Ia menyampaikan bahwa perusahaan secara konsisten memperkuat kontribusi terhadap 17 tujuan SDGs.“Program Smartani kami gagas untuk mewujudkan visi perusahaan, yaitu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Hingga saat ini, Sido Muncul telah memenuhi seluruh 17 tujuan SDGs,” ujarnya.Amri menjelaskan bahwa Smartani di Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Semarang, dikembangkan dengan pendekatan nature-based solution. Implementasinya dimulai dengan social mapping untuk memetakan potensi lokal.“Di desa ini ada kelompok petani alpukat, peternak sapi perah, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ‘Mbok Jajan’ yang sebelumnya terdampak Covid-19. Kami memberikan pelatihan agar mereka dapat kembali produktif, dan kini produk mereka sudah memasok ke Sido Muncul,” terang Amri.Baca juga: Konsisten Bantu Tangani Katarak, Sido Muncul Kembali Raih Perdami Award/Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat bersama tim dalam ajang Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 di Jakarta, Rabu .

| 2026-02-04 07:56