Main Dulu Biar Paham, Cara SBM ITB Ajak Belajar Bisnis lewat Board Game

2026-01-12 06:14:22
Main Dulu Biar Paham, Cara SBM ITB Ajak Belajar Bisnis lewat Board Game
- Di Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB, pembelajaran bisnis tidak selalu berlangsung lewat slide dan rumus. Di balik papan dan kartu permainan penuh warna, ada keyakinan sederhana: belajar tak harus serius, apalagi membosankan.Keyakinan itu diwujudkan melalui Laboratory of Educational Games (LEG), laboratorium yang sejak 2017 mengembangkan board game sebagai media pembelajaran bisnis, manajemen, dan kepemimpinan.Laboratorium ini berangkat dari kegemaran seorang dosen SBM ITB bermain board game dan kegelisahan terhadap metode belajar yang terlalu teoritis dan monoton.Tujuan LEG jelas, membantu mahasiswa tidak hanya memahami konsep bisnis, tetapi juga membayangkan penerapannya di dunia nyata. Lewat permainan, mahasiswa diajak merasakan langsung dinamika membangun perusahaan, menyusun strategi, menghadapi risiko kegagalan, hingga mengambil keputusan dalam situasi kompetitif."Setelah belajar teori, mereka mempraktikannya lewat game. Walaupun enggak langsung, tapi lewat permainan itu, mereka bisa membayangkan, kalau masuk ke perusahaan itu situasinya seperti apa," ujar Yuli, Asisten Laboratorium LEG SBM ITB saat ditemui di booth acara PRIMA ITB 2025.Setiap board game dirancang dengan tujuan pembelajaran yang spesifik. Ada permainan yang menekankan komunikasi antar divisi, negosiasi, kerja tim, hingga kepemimpinan. Istilah bisnis dan saham pun diperkenalkan melalui mekanisme permainan yang sederhana namun kontekstual."Untuk beberapa game disini, ya tadi ada yang terkait dengan komunikasi, negosiasi, Atau bahkan manajemennya secara langsung, terus ada juga pengenalan mengenai saham, atau strategi-strategi bisnis, dan istilah-istilah di dalam bisnis itu sendiri," kata Yuli.Satu materi tidak selalu cukup disampaikan lewat satu permainan. Terkadang, tim LEG membaginya ke dalam dua board game berbeda agar pesan pembelajaran tetap utuh, bergantung pada kompleksitas materi dan metode penyampaian.Hingga kini, LEG telah mengembangkan lebih dari 20 board game manual dan sejumlah game digital.Beberapa di antaranya adalah Say No To Bankrupt, Get Business, Stand Up and Down, Business Dictionary, The Labyrinth, dan Genius Star. Untuk versi digital, terdapat permainan seperti Selling Race, Matching Game, hingga game edukatif pilah sampah yang sering digunakan saat open house.Baca juga: Mendikdasmen Siap Bahas Lintas Kementerian Rencana Pembatasan Game OnlineTingkat kerumitan tiap game pun beragam. Ada permainan sederhana yang bisa diselesaikan dalam 10–15 menit, namun ada pula game kompleks yang membutuhkan waktu penjelasan hingga satu jam sebelum dimainkan."Paling banyak itu di kami sebenarnya idealnya 4 orang, tapi kalau misalnya memang si pesertanya lagi banyak, itu akan jadi 8 orang jadi satu board game itu dimainin berdua jadi biar ada teman diskusi," ujarnya.Di balik tampilannya yang sederhana, proses pengembangan board game di LEG tidak singkat. Pengumpulan ide bisa memakan waktu hingga tiga bulan, sementara tantangan terbesar muncul pada tahap uji coba."Kadang idenya sudah ada, tapi pas dimainkan ternyata nggak seru, atau efeknya kurang menantang. Bahkan bisa saja permainan langsung bangkrut tanpa tahu penyebabnya," kata Yuli.Board game LEG kini tidak hanya digunakan di lingkungan SBM ITB, tetapi juga dimanfaatkan dalam pelatihan perusahaan, kunjungan SMA, serta dipinjam oleh berbagai institusi dan universitas.Di dalam kampus, board game bahkan menjadi bagian dari kurikulum. Mahasiswa semester awal SBM tidak hanya bermain, tetapi juga diminta menciptakan board game mereka sendiri sebagai tugas akhir.Meski fokus utamanya bisnis dan manajemen, beberapa permainan dirancang agar bisa diakses pelajar SMA. Genius Star, misalnya, memiliki level yang disesuaikan dengan kemampuan peserta.Ke depan, LEG berharap game-game tersebut bisa diproduksi dan dipasarkan secara lebih luas. Namun, tantangan tata kelola dan keberlanjutan institusi masih menjadi pekerjaan rumah."Harapan kami, game-game ini bisa dijual, suapya semakin banyak yang tahu bahwa Indonesia punya Board Game tenatang bisnis, dan manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang," ujar Yuli.Baca juga: Setelah Roblox, Pemerintah Buka Kemungkinan Batasi Game PUBG


(prf/ega)