Ragunan Prediksi Pengunjung Tahun Baru 2026 Tembus 80.000 Orang

2026-02-02 08:36:51
Ragunan Prediksi Pengunjung Tahun Baru 2026 Tembus 80.000 Orang
JAKARTA, – Pengelola Taman Margasatwa Ragunan (TMR), Jakarta Selatan, memprediksi jumlah pengunjung pada puncak libur Tahun Baru 2026 akan melampaui 80.000 orang.Humas Taman Margasatwa Ragunan Wahyudi Bambang mengatakan, angka tersebut merupakan estimasi awal dengan mempertimbangkan data historis pengunjung saat pergantian tahun.“Jadi kalau bicara prediksi hari ini kan diperkirakan 50.000 orang, lalu untuk tahun baru diperkirakan 80.000 orang dulu,” kata Bambang saat ditemui di lokasi, Kamis .Baca juga: Libur Natal, Pengunjung Ragunan Tembus 28.000 Orang hingga Siang HariMenurut Bambang, pada puncak perayaan Tahun Baru 2025 lalu, jumlah pengunjung Ragunan bahkan sempat menembus angka 111.000 orang.Karena itu, pihak pengelola menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi lonjakan serupa pada libur akhir tahun kali ini.Sementara itu, pada libur Natal 2025, jumlah pengunjung TMR tercatat cukup tinggi. Hingga Kamis pukul 11.00 WIB, sebanyak 28.876 orang tercatat telah memasuki kawasan Ragunan.Angka tersebut diperkirakan terus bertambah karena loket masih dibuka hingga sore hari.“Ada kemungkinan untuk hari ini sudah lebih dari 30.000 pengunjung yang masuk, kemarin prediksi saya bisa di angka 50.000 pengunjung,” ujar Bambang.Ia menjelaskan, lonjakan jumlah pengunjung pada libur Natal dan Tahun Baru bisa meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Pada hari kerja normal, jumlah pengunjung Ragunan hanya berkisar antara 3.000 hingga 5.000 orang.“Tapi kalau weekend pas sampai tutup loket ya, itu kalau Sabtu bisa sekitar 15.000 pengunjung, Minggu pas paling ramai 40.000 orang,” terang Bambang.Baca juga: Libur Natal, Lalu Lintas Menuju Kebun Binatang Ragunan Padat MerayapUntuk mengantisipasi kepadatan pengunjung dan kendaraan, pengelola Ragunan telah menyiapkan 10 titik kantong parkir di dalam kawasan TMR. Total kapasitas parkir yang tersedia mencapai sekitar 6.000 unit mobil dan 12.000 unit sepeda motor.Beberapa titik kantong parkir mobil berada di sekitar pintu timur, area dekat danau, gudang pakan satwa, hingga jalur melingkar menuju pintu selatan.Selain itu, selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), jam operasional Taman Margasatwa Ragunan dibuka lebih awal, yakni mulai pukul 06.00 hingga 16.30 WIB.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-02 15:40