KARAWANG, -Ertina Hisage tak pernah menyerah dengan keterbatasan. Selama menjadi guru honorer Sekolah Dasar (SD) di wilayah pedalaman Papua akses dan medan ekstrem tidak menjadi penghalang baginya. Ia terus berjuang meningkatkan kualitas diri demi masa depan pendidikan anak-anak di Papua Pegunungan. Kisah perjuangan salah satu wisudawan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) itu mencerminkan dedikasi guru di daerah dengan keterbatasan infrastruktur dan teknologi. Baca juga: Mendikti Perkuat Kerja Sama dengan Rusia, Buka Gerbang Global Pendidikan TinggiSelama menempuh pendidikan PPG, Ertina menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari lokasi tempat tugasnya jauh dari pusat kota, tidak memiliki jaringan internet, bahkan penggunaan ponsel berbasis Android pun sulit dilakukan. "Tempat saya mengajar itu jauh dari kota, tidak ada jaringan. HP Android pun susah dipakai. Tapi saya punya komitmen, saya harus bisa dan harus menjadi guru profesional,” ujar Ertina di Kampus Unsika, Minggu . Demi mengikuti perkuliahan PPG, Ertina mengatur waktu antara mengajar dan kegiatan sehari - harinya.Baca juga: Untar Investasi Puluhan Triliun Untuk Bangun Ekosistem Pendidikan BaruPagi hari, Ertina mengajar di sekolah, adapun siang hingga malam hari ia mengikuti perkuliahan PPG dengan menempuh perjalanan ber jam - jam menuju kota menggunakan angkutan umum.Perjalanan itu ia tempuh hanya untuk mendapatkan akses jaringan internet. "Pagi saya mengajar, siangnya saya harus keluar dari tempat tugas, naik angkot, mencari tempat yang ada jaringan supaya bisa ikut perkuliahan,” kata Ertina. Bagi Ertina, perjuangan panjangnya bukan semata demi meraih gelar, melainkan panggilan hidup untuk mencerdaskan anak-anak di pedalaman Papua yang masih banyak tertinggal akses pendidikannya. Baca juga: Cara Jadi Penerima KJMU, Bantuan Pendidikan Rp 9 Juta Per Semester"Saya ingin adik-adik di kampung tidak tertinggal. Karena jarak dan medan yang jauh, banyak anak yang akhirnya tidak sekolah. Itu yang mendorong saya untuk terus berjuang,” ujar Ertina. Tak hanya perjuangan selama kuliah, perjalanan Ertina menuju momen wisuda pun penuh tantangan. Ia menempuh perjalanan laut selama sembilan hari dari Papua menuju Karawang. Ia berangkat bersama dua anaknya dan sang ibu, demi menghadiri prosesi wisuda dan menerima sertifikat kelulusan. "Puji Tuhan, saya bisa sampai dan berdiri di sini. Ini bukan karena kehebatan saya, tapi karena Tuhan menolong saya lewat para dosen dan pembimbing di UNSIKA,” kata dia. Baca juga: Pimpinan Komisi X Minta Pendidikan saat Bencana Diatur di RUU SisdiknasErtina telah mengabdikan sebagai guru sejak tahun 2016 di Yayasan SD Advent Maima. Selama hampir 10 tahun mengajar sebagai guru honorer, ia tetap melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia pada 2021, sebelum akhirnya lulus pendidikan PPG di UNSIKA. Ertina memiliki cita-cita besar untuk memajukan pendidikan anak usia dini di daerahnya. Ia telah mengantongi sertifikat pendirian PAUD serta TK.Ia pun berencana mengajukan pembangunan gedung sekolah kepada pemerintah agar anak-anak di kampungnya dapat mengakses pendidikan sejak usia dini. Baca juga: Dua Atlet Nasional yang Menapaki Jalan Baru Lewat Pendidikan di SurabayaSetelah resmi lulus PPG, Ertina juga bertekad membagikan ilmu dan pengalaman yang ia peroleh kepada rekan-rekan guru di Papua. "Saya ingin ilmu PPG ini tidak berhenti di saya. Saya mau berbagi dengan teman-teman guru, supaya kami bisa bersama-sama menjadi terang bagi anak-anak di kampung,” kata Ertina.
(prf/ega)
Perjuangan Ertina Ikuti PPG dengan Jaringan Internet Terbatas di Pedalaman Papua
2026-01-12 14:08:40
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 13:16
| 2026-01-12 13:13
| 2026-01-12 13:08
| 2026-01-12 12:41
| 2026-01-12 12:08










































