JAKARTA, - Matahari siang memantulkan panas dari trotoar di depan pintu IRTI Monas, namun di sepanjang jalur masuk itu, deretan pedagang asongan dan PKL liar tetap duduk bersisian.Meski area tersebut telah berulang kali dinyatakan “steril” dari aktivitas perdagangan, kenyataannya setiap hari wajah-wajah yang sama kembali hadir, membawa minuman dingin, arum manis, es krim, mainan kecil, camilan, hingga minyak angin sachet.Penertiban demi penertiban sudah tidak terhitung jumlahnya. Bahkan pada 2 Juli 2025 lalu, sempat terjadi kericuhan antara PKL dengan petugas Satpol PP Kecamatan Gambir di Pintu Pertamina Monas.Namun, kisah para pedagang kecil ini terus berulang bergeser saat disuruh, kembali saat petugas pergi.Baca juga: Potret Jalur Pedestrian Monas yang Berubah Jadi Ruang Dagang PKL Tanpa IzinTati (47), pedagang asongan minuman botol air mineral, teh kemasan, kopi sachet yang sudah lebih dari satu dekade menggantungkan penghidupan di Monas, Pasar Senen, hingga Gambir.“Dulu kami bisa duduk agak di dalam, dekat pintu karcis,” ujarnya sambil menarik napas pelan kepada Kompas.com, Kamis .“Sekarang enggak boleh. Katanya harus di luar pagar. Tapi kalau jauh sedikit saja, pembeli enggak kelihatan,” lanjutnya.Bagi Tati, kedekatan dengan arus pengunjung adalah soal hidup dan mati.“Kalau saya geser lima meter, dagangan saya kayak hilang,” katanya.Razia menjadi hal lumrah. Tati mengakui, sebagian besar petugas tidak kasar, tetapi tidak ada solusi lain selain pindah.“Saya enggak punya modal buat sewa kios resmi. Kalau dilarang total, saya bingung mau makan apa,” ujarnya lirih.Ada satu momen yang justru menjadi rezeki tahunan demo besar di Patung Kuda. Saat ribuan massa berkumpul, ia ikut bergerak dari Monas ke titik aksi.“Kalau demo, saya tinggal pindah dari pintu parkir IRTI ke lokasi. Lumayan, habis itu balik lagi ke Monas,” tuturnya.Tidak ada tempat lain yang mampu memberi Tati peluang seperti Monas.Baca juga: Di Balik Keindahan Monas, PKL Bertahan Hidup Sambil Terus Kucing-kucinganSedikit bergeser ke kanan pintu gerbang, Rudi (41) duduk dengan kantong-kantong barang dari Pasar Senen. Ia menjual telur gulung kering, rangin, permen, kacang, hingga mainan kecil.“Dulu saya pernah punya lapak dekat IRTI. Tapi sejak renovasi Monas, sudah enggak boleh. Katanya nanti ada penataan UMKM, tapi sampai sekarang enggak jelas,” ujar Rudi.Kini, ia kembali menjadi pedagang asongan yang berpindah-pindah. Jika Satpol PP muncul, kode langsung disebar sesama pedagang “Geser! Geser!”“Saya angkat semua barang ini, lari ke balik tiang atau tembok. Capek, tapi sudah biasa,” ujarnya sambil memegang plastik berisi mainan anak-anak.Baginya, kekhawatiran terbesar adalah penyitaan barang.“Modal saya kecil. Kalau disita, selesai sudah,” tuturnya.
(prf/ega)
Kisah PKL Tak Bisa Menjauh dari Monas, Bertahan di Bawah Bayang Razia
2026-01-11 15:09:34
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 15:15
| 2026-01-11 14:54
| 2026-01-11 14:37
| 2026-01-11 14:15










































