BANDUNG, - Pengolahan sampah organik di Tempat Pengolahan Sampah Pasar Induk Gedebage, Kota Bandung, dari Juni hingga Desember 2025 mencapai 3.000 ton.Direktur Utama CV Prosignal Karya Lestari, Aldi Ridwansyah, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengelola sampah di lokasi tersebut selama enam bulan dengan metode utama biodigester."Dari jumlah tersebut, output yang sudah keluar sekitar 1.700 ton," ujar Aldi saat ditemui di Pasar Induk Gedebage, Kota Bandung, Senin .Dari 1.700 ton sampah yang diolah, Aldi menjelaskan, 1.300 ton di antaranya merupakan pupuk kompos."Kompos yang masih tertumpuk sekitar 1.300 ton," jelasnya.Baca juga: 48 Desa Adat di Tabanan Terapkan Teba Modern untuk Ubah Sampah Jadi KomposAldi berharap masyarakat Kota Bandung bersama Pemerintah Kota Bandung dapat memanfaatkan kompos-kompos yang menumpuk di Pasar Induk Gedebage."Keinginan kami sebagai pengolah sampah adalah adanya kolaborasi antar dinas terkait, seperti DKPP, DPKP, dan DLH, untuk mendorong hilirisasi pengolahan sampah. Hilirisasi ini sangat penting karena output hasil pengolahan sampah tidak mungkin bergerak sendiri tanpa dukungan pemerintah," tuturnya.Aldi juga memastikan bahwa kompos hasil pengolahan sampah di Pasar Induk Gedebage memiliki kualitas baik untuk pertanian dan perkebunan."Kami sangat terbuka untuk memodifikasi kandungan nutrisi yang diperlukan," katanya.Ia menambahkan, kompos ini dapat bersaing dengan pupuk kandang dari kotoran hewan (KOHE)."Dari sisi kualitas, kompos ini mengandung unsur hara utama yang dibutuhkan tanaman, yaitu Nitrogen (N), Phosphat (P), dan Kalium (K). Kandungan ini bisa dimodifikasi melalui proses blending, tergantung kebutuhan tanaman. Kalau tanaman buah, kaliumnya yang ditingkatkan. Kalau sayuran, nitrogen yang ditingkatkan, dan kalau tanaman berbatang keras, maka phosphat yang ditingkatkan," ucapnya.Aldi menegaskan, warga yang ingin mencoba memanfaatkan kompos dari hasil pengolahan sampah organik di Pasar Induk Gedebage dapat mengambilnya gratis."Jika ada pihak yang ingin mengambil, dipersilakan dan diberikan secara gratis untuk tahap uji coba. Tujuannya agar masyarakat atau petani bisa melihat langsung kualitas kompos yang dihasilkan. Jika ada permintaan, kompos bisa diproses ulang sesuai spesifikasi, baik untuk kebutuhan industri (lebih halus) maupun curah biasa," bebernya.Dengan memberikan pupuk kompos secara gratis untuk uji coba, Aldi mengungkapkan, hal tersebut juga akan membantu pihaknya mengurangi jumlah timbunan kompos di gudang milik CV Prosignal Karya Lestari."Jika kompos tidak segera dikeluarkan, produksi kompos selanjutnya tidak akan bisa masuk ke dalam gudang," tandasnya.Aldi menambahkan, hasil kompos per hari rata-rata mencapai 14 ton, namun pemanfaatannya belum berjalan rutin.Saat ini, rata-rata output kompos yang keluar hanya sekitar 7 ton per hari."Kendalanya adalah keterbatasan gudang, sehingga kami berharap distribusi bisa dipercepat," pungkasnya.
(prf/ega)
Pasar Induk Gedebage Hasilkan 1.300 Ton Kompos, Warga Bisa Ambil Gratis
2026-01-12 12:33:15
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 12:33
| 2026-01-12 11:54
| 2026-01-12 11:28
| 2026-01-12 11:19
| 2026-01-12 09:53










































