Siswa SMPN 19 Tangsel Meninggal, Komisi X Kecam Keras Kasus Bullying Siswa

2026-01-12 06:13:02
Siswa SMPN 19 Tangsel Meninggal, Komisi X Kecam Keras Kasus Bullying Siswa
JAKARTA, - Wakil Ketua Komisi X DPR Kurniasih Mufidayati mengecam keras dugaan kasus perundungan atau bullying yang mengakibatkan seorang siswa SMPN 19 Tangerang Selatan meninggal dunia.Tegasnya, kasus tersebut harus diusut tuntas dan menjadi momentum untuk menyatakan darurat nasional terhadap praktik bullying di sekolah.Ia mengatakan, perundungan tidak boleh dianggap sebagai konflik sepele antarsiswa. Praktik bullying merupakan bentuk kekerasan yang bisa mengancam nyawa dan harus ditangani secara serius oleh sekolah, pemerintah daerah, dan negara."Ini tragedi besar. Tidak ada satupun alasan untuk membiarkan bullying terus terjadi sampai merenggut nyawa anak. Saya mendesak stop perundungan sekarang juga," ujar Kurniasih lewat keterangannya, Senin .Baca juga: Siswa SMPN 19 Tangsel Meninggal Diduga Dibully, Prabowo: Harus DiatasiSekolah dan Dinas Pendidikan, kata Kurniasih, memiliki tanggung jawab penuh untuk memastikan keamanan siswa.Menurutnya, fakta bahwa korban telah di-bully sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menunjukkan adanya kegagalan pengawasan dan lemahnya sistem perlindungan siswa."Sekolah harus menjadi tempat paling aman bagi anak. Jika sejak awal masuk sekolah anak sudah mengalami perundungan, berarti ada kesalahan serius dalam kultur dan pengawasan. Ini tidak boleh dibiarkan," ujar Kurniasih."Kematian anak ini harus menjadi alarm nasional. Kita tidak boleh membiarkan satu pun anak menjadi korban perundungan lagi. Negara wajib hadir untuk memastikan sekolah menjadi ruang aman, bukan ruang kekerasan," sambungnya.Baca juga: Kasus Meninggalnya Siswa SMPN 19 Tangsel, PGRI Desak Sekolah Perkuat Pencegahan PerundunganSebagai informasi, siswa SMPN 19 Tangerang Selatan berinisial MH (13) meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis di RS Fatmawati, Jakarta Selatan, pada Minggu .MH diduga mengalami intimidasi oleh teman sekelasnya sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Menurut ibunya, Y (38), perlakuan tersebut tidak hanya berupa ejekan, tetapi juga kekerasan fisik.Puncak kekerasan terjadi pada Senin , ketika kepala MH dihantam menggunakan kursi besi oleh rekan sekelasnya. Sejak saat itu, kondisi korban terus menurun hingga harus menjalani perawatan intensif.


(prf/ega)