- Catherine Hartmann, seorang profesor studi agama dari Universitas Wyoming, Amerika Serikat memutuskan untuk kembali menggunakan ujian lisan sejak tahun lalu.Mahasiswa di kelasnya dihadapkan pada metode ujian yang umurnya yang setua para filsuf kuno.Selama 30 menit, setiap mahasiswa duduk berhadapan dengan Hartmann di kantornya. Hartmann mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam. Mahasiswa harus menjawabnya saat itu juga.Dilansir dari The Washington Post, Sabtu , Hartmann bukanlah satu-satunya dosen yang beralih ke metode penilaian “kuno” ini.Semakin banyak tenaga pendidik sedang mencoba ujian lisan untuk membentengi integritas akademik dari gempuran kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT.Baca juga: Kisah Bagas, Siswa SMA yang Ikut Sumbang Medali SEA Games 2025AI sendiri dapat digunakan untuk mencontek pada ujian atau esai yang dibawa pulang, serta menyelesaikan berbagai tugas.Fenomena ini dikenal sebagai bagian dari “cognitive off-loading” atau pelimpahan beban kognitif ke pihak ketiga seperti AI.Hartmann memberikan analogi yang menohok kepada mahasiswanya. Ia mengatakan bahwa menggunakan AI dalam belajar seperti membawa forklift ke gym saat tujuan para mahasiswa adalah membangun otot.“Kelas adalah gym, dan saya adalah pelatih pribadi Anda. Saya ingin Anda mengangkat beban.” jelasnya.Baca juga: Wamen Stella Sebut yang Perlu Belajar AI Orang Berusia 30 Tahun ke AtasMetode ini sempat membuat mahasiswanya ciut nyali. Lily Leman (20), salah seorang mahasiswa Hartmann yang mengambil dua jurusan bahasa Spanyol dan sejarah mengaku, pada awalnya ia merasa takut dengan ide ujian lisan. Usai menjalaninya, ia berharap ada lebih banyak ujian semacam itu.Dok. Freepik Ilustrasi AISejak ChatGPT diluncurkan pada 2022, para pendidik telah berjuang dengan tantangan yang ditimbulkan AI bagi metode pembelajaran yang ada.Survei terbaru Inside Higher Ed menunjukkan, 85 persen mahasiswa mengatakan mereka telah menggunakan AI dalam mata kuliah mereka, termasuk untuk brainstorming ide dan mempersiapkan ujian.Seperempat di antaranya mengaku menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas. Sementara, sekitar 30 persen mengatakan seharusnya kampus merancang metode penilaian yang “tahan AI”, termasuk ujian lisan.Untuk melawan kecurangan yang didorong oleh AI, beberapa dosen beralih ke perangkat lunak untuk mendeteksi tugas yang terindikasi dikerjakan oleh AI, meskipun alat-alat tersebut seringkali tidak akurat.Beberapa dosen lain memilih kembali ke ujian tertulis di kelas, memicu kebangkitan penggunaan “blue books,” buku kertas yang mendominasi ujian perguruan tinggi pada akhir milenium lalu.Baca juga: Mengapa Masuk ITB Sulit? Ini Penjelasan Rektor
(prf/ega)
Cegah Kecurangan Pakai AI, Dosen Luar Negeri Beralih ke Ujian Lisan
2026-01-11 23:17:12
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 23:58
| 2026-01-11 22:11
| 2026-01-11 21:57
| 2026-01-11 21:43
| 2026-01-11 21:37










































