Eks Pejabat BRR Soroti Pekerja Kemanusiaan Seperti Orang Kantoran saat Tangani Bencana Aceh

2026-01-12 05:33:30
Eks Pejabat BRR Soroti Pekerja Kemanusiaan Seperti Orang Kantoran saat Tangani Bencana Aceh
BANDA ACEH, - Mantan Sekretaris Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh–Nias, Teuku Kamaruzzaman, menilai respons penanganan bencana di Aceh belum bisa memenuhi harapan para korban.Sudah hampir empat pekan pascabencana, masyarakat terdampak belum tertangani secara masif.Teuku Kamaruzzaman atau Ampon Man tidak bermaksud membandingkan. Namun, jika melihat bencana tsunami 2004 lalu, penanganan kali ini dinilai sangat berbeda.Menurutnya, kemampuan penanganan bencana oleh lembaga atau organisasi pemerintahan saat ini terlihat terbatas.“Tidak terlihat ada kehandalan dan kualifikasi Humanitarian Workers (pekerja kemanusiaan) dalam unit-unit Rescue yang dimiliki negara, dan sebagian terlihat malah mirip orang kantoran,” katanya saat dihubungi Kompas.com, Selasa .Baca juga: [VIDEO] Hoaks Cristiano Ronaldo Tiba di Aceh untuk Jenguk Korban BanjirAmpon Man menyebutkan, di awal-awal pascabencana, bahkan beberapa daerah terisolir. Korban terdampak terpaksa makan apa saja karena tidak ada bantuan yang masuk.Sebagian dari mereka juga harus menempuh jalan puluhan kilometer bahkan berhari-hari untuk mencari bahan makanan.Menurutnya, penanganan bencana kali ini tidak terlihat dropping logistik secara besar-besaran ke daerah terisolir melalui udara sebagaimana saat bencana tsunami 2004 silam.Pada saat bencana tsunami, ia menceritakan, evakuasi penyelamatan korban, dan penyaluran logistik dilakukan oleh berbagai pihak.Baca juga: Sebulan Pascabanjir, 6 Desa Aceh Utara Masih Padam Listrik“Saat tsunami 2004 itu disebarkan secara besar-besaran ke berbagai lokasi termasuk yang tidak terdampak, agar dapat diperoleh bantuan pangan bagi semua rakyat Aceh akibat terdampak situasi bencana, dan itu dilakukan tanpa perhitungan lain kecuali guna penyelamatan nyawa manusia,” ujarnya.Bencana kali ini, menurutnya juga tidak terlihat pengerahan komponen cadangan negara untuk pencarian dan penyelamatan korban bencana secara masif, baik di darat, sungai, maupun di laut atau korban yang kemungkinan tertimbun lumpur.“Jaringan telekomunikasi yang seharusnya mandiri (punya genset/ battery) malah beralasan juga tidak ada listrik dan BBM, sehingga jaringan komunikasi dan informasi yang penting di seluruh Aceh terganggu, kecuali beberapa yang telah memiliki starlink,” tuturnya.Ia menilai ada dua hal yang membuat respons bencana kalit ini tidak sesuai harapan masyarakat.“Ada dua soal yang mungkin membuat respons bencana ini tidak sesuai harapan korban. Pertama, saya kira sense of crisis dari kelembagaan pemerintah yang ada untuk penanganan bencana seluas saat ini, tidak cukup kuat/peka dalam menerjemahkan perintah Presiden bahwa penanganan bencana ini dilaksanakan dengan penanganan oleh Pemerintah Pusat (Nasional)," jelasnya."Kedua, adalah kemampuan dan resource yang tersedia sangat terbatas dengan berbagai kendalanya,” imbuhnya.


(prf/ega)