Dari SPPG Tlogorejo hingga Meja Sekolah, Perjalanan Panjang Seporsi Makan Bergizi Gratis

2026-01-12 03:36:52
Dari SPPG Tlogorejo hingga Meja Sekolah, Perjalanan Panjang Seporsi Makan Bergizi Gratis
– Eko Yulianto sudah bersiap mengenakan seragam dan alat pelindung diri (APD) lengkap saat sebagian besar warga Desa Gerabak, Tlogorejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, masih tertidur lelap. Pukul 01.00 dini hari, ia melangkah memasuki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tlogorejo yang masih sunyi.Bukan tanpa alasan Eko dan puluhan rekan kerjanya memulai aktivitas di tengah malam. Saban hari, mereka harus menyiapkan 3.685 porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk 21 sekolah, mulai dari rentang pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah menengah atas (SMA).Itu berarti, ribuan anak di Kecamatan Grabag, tempat Desa Gerabak berada, menanti sarapan dan makan siang tiba tepat waktu.“Tantangannya lebih ke fisik dan menu. Kalau menunya ribet, pukul 10 pagi baru selesai. Sementara, kalau yang simpel, bisa selesai pukul 6 atau 8 pagi,” ujar Eko yang telah bekerja di SPPG sejak Agustus 2025.Baca juga: Prabowo: MBG adalah Prestasi Logistik Terbesar di DuniaSebelumnya, pria asal Tlogorejo itu berprofesi sebagai helper cook di tempat lain. Namun, ia memilih bergabung dengan SPPG karena lokasinya dekat dari rumah. Selain itu, bekerja di program MBG menurutnya tidak sekadar mencari nafkah, tetapi berkontribusi langsung membantu anak-anak mendapat makanan bergizi.KOMPAS TV Dari SPPG Tlogorejo inilah ribuan porsi makanan bergizi diproduksi setiap hari, menjadi ujung tombak pemenuhan gizi bagi anak-anak di Kecamatan GrabagKepala SPPG Tlogorejo Muhammad Zulfikar memastikan setiap porsi makanan yang keluar dari dapurnya memenuhi standar gizi dan kebersihan tertinggi. Prosesnya dimulai sejak bahan baku datang dari pemasok.Di ruang penerimaan bahan, petugas dengan teliti menyortir setiap kiriman, mulai dari diperiksa satu per satu kondisinya hingga dicuci bersih, guna memastikan tidak ada kotoran atau residu pestisida yang tertinggal.Baca juga: Saat Petugas SPPG Belajar dari Chef Hotel Bintang 5 demi Sajian Terbaik untuk Menu MBGPemeriksaan tidak hanya terkait kesegaran bahan, tetapi juga keseimbangan gizi. Di sinilah peran ahli gizi SPPG Tlogorejo Zamiatul Kartika menjadi krusial.Dengan clipboard di tangan dan mengenakan jas lab putih, Zamiatul berkeliling memantau setiap tahapan produksi. Dari dapur utama hingga meja pemorsian, ia memastikan tidak ada satu pun prosedur yang terlewat.Hari itu, menu yang disiapkan adalah ayam geprek atau chicken crispy. Untuk kelas 1 hingga 3 SD disajikan dengan saus, sedangkan kelas 4 hingga SMA menggunakan sambal. Menu tersebut dilengkapi nasi putih pulen sebagai karbohidrat, sayuran berupa tomat, timun, dan selada hijau segar, serta camilan, susu kotak, dan pisang sebagai buah.Di ruang preparasi, petugas dengan celemek merah bertuliskan "SPPG" tengah membumbui potongan ayam segar. Kuncinya ada pada pemilihan bahan segar dan penanganan sesuai prosedur standar operasional. Ayam yang digunakan dipastikan masih segar, bebas dari formalin, dan diolah dengan minyak goreng berkualitas.Baca juga: BGN Bakal Bangun 8.200 SPPG di Wilayah TerpencilDi sudut lain, terlihat beberapa petugas mengaduk sambal dengan spatula panjang. Meski aroma harum cabai dan bawang putih memenuhi ruangan, tingkat kepedasan tetap disesuaikan agar aman bagi anak-anak.Sebelum didistribusikan, makanan-makanan itu melewati tahap uji organoleptik. Tim mengambil sampel, kemudian mencicipinya langsung untuk memastikan rasa dan kualitas.Di meja laboratorium mini, petugas mencelupkan strip rapid test ke dalam sampel makanan untuk memastikan tidak ada kandungan formalin, boraks, pestisida, dan zat berbahaya lainnya.“Sebelum diporsi, makanan kami selalu timbang terlebih dahulu untuk memastikan kandungan gizi tetap terjaga,” jelas Zamiatul.Baca juga: Kepala BGN: Hari Ini Sudah Terbentuk 15.363 SPPG


(prf/ega)