Mirip Kutub, NASA Temukan Potensi Kehidupan di Balik Permukaan Bulan Titan

2026-01-12 06:01:41
Mirip Kutub, NASA Temukan Potensi Kehidupan di Balik Permukaan Bulan Titan
— Selama satu dekade terakhir, para ilmuwan meyakini bahwa Titan, bulan terbesar milik Saturnus, menyembunyikan samudra cair yang luas di bawah permukaannya.Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature pada hari Rabu memberikan pandangan yang sangat berbeda dan mengejutkan.Alih-alih samudra air yang dalam seperti di Bumi, permukaan Titan kemungkinan besar terdiri dari lapisan es tebal dan "bubur" es yang mirip dengan es laut di Arktik atau akuifer.Temuan dari para peneliti di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA ini didapat setelah mereka memeriksa kembali data lama dari wahana antariksa Cassini dengan metode analisis yang lebih mutakhir.Baca juga: Ilmuwan Temukan Air dan Minyak Bisa Menyatu di Bulan Titan SaturnusMeskipun teori samudra luas kini dipertanyakan, temuan ini justru memberikan harapan baru bagi pencarian kehidupan di Bulan Titan.Para peneliti menemukan bahwa di dalam lapisan es dan bubur tersebut, terdapat kantong-kantong air tawar yang suhunya bisa mencapai 21 derajat Celsius.Kondisi ini dianggap sangat potensial bagi keberadaan makhluk hidup, meskipun dalam skala mikroskopis.Nutrisi di kantong air kecil ini diprediksi lebih terkonsentrasi dibandingkan jika tersebar di samudra yang sangat luas."Alih-alih samudra terbuka seperti yang kita miliki di Bumi, kita mungkin melihat sesuatu yang lebih mirip es laut Arktik atau akuifer, yang memiliki implikasi terhadap jenis kehidupan yang mungkin kita temukan," ujar Baptiste Journaux, asisten profesor di University of Washington yang ikut menulis studi tersebut, dikutip Euronews.Journaux menambahkan bahwa jika kehidupan memang ada di sana, kemungkinan besar bentuknya sangat kecil."Alam berulang kali menunjukkan kreativitas yang jauh lebih besar daripada ilmuwan paling imajinatif sekalipun," kata dia.Bagaimana para ilmuwan bisa mengetahui apa yang ada di bawah permukaan Titan tanpa mengebornya? Kuncinya terletak pada tarikan gravitasi Saturnus.Karena Titan selalu menghadap sisi yang sama ke Saturnus, gravitasi planet bercincin itu menciptakan tonjolan setinggi 9 meter di permukaan Titan.Tim peneliti yang dipimpin oleh Flavio Petricca dari JPL menemukan adanya jeda waktu selama 15 jam antara tarikan gravitasi puncak dan naiknya permukaan Titan.Efek ini diibaratkan seperti mengaduk madu dengan sendok; zat yang kental dan lengket membutuhkan lebih banyak energi dan waktu untuk bergerak dibandingkan air cair.


(prf/ega)