Kaleidoskop 2025: Permukiman Padat, MCK Minim, dan Ketimpangan Layanan di Jakarta Pusat

2026-01-12 06:20:42
Kaleidoskop 2025: Permukiman Padat, MCK Minim, dan Ketimpangan Layanan di Jakarta Pusat
JAKARTA, — Sepanjang 2025, jantung Kota Jakarta kembali menampilkan wajah kontras Ibu Kota yang tak pernah sepenuhnya selesai.Di tengah laju pembangunan gedung bertingkat, pusat bisnis, dan proyek infrastruktur, sejumlah permukiman padat di Jakarta Pusat masih bergulat dengan persoalan mendasar: sanitasi buruk, minim fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), serta lingkungan yang kian rentan bagi kesehatan dan keselamatan warganya.Catatan Kompas.com sepanjang 2025 menunjukkan persoalan permukiman kumuh di Jakarta Pusat bukan sekadar cerita lama yang berulang, melainkan gambaran nyata ketimpangan layanan dasar yang masih dialami ribuan warga.Bau limbah, air sungai yang menghitam, serta toilet yang pembuangannya langsung ke kali menjadi potret keseharian yang terus berulang dari tahun ke tahun.Baca juga: Kaleidoskop 2025: Tragedi Penembakan Bos Rental dan Hukuman Ringan Anggota TNISalah satu lokasi yang kerap menjadi sorotan adalah permukiman padat di Jalan Awaludin II dan Kebon Pala III, Kelurahan Kebon Melati, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.Wilayah ini mencakup RT 15, RT 16, dan RT 17 RW 14, kawasan yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai titik hunian kumuh dengan sanitasi buruk dan tingkat kerentanan lingkungan yang tinggi.Permukiman tersebut berdiri tepat di bantaran Kali Krukut, tidak jauh dari pertemuannya dengan Kali Ciliwung dan area Stasiun Karet.Secara geografis, lokasinya berada di pusat kota. Namun, kondisi lingkungannya seolah terlepas dari denyut modernisasi Jakarta.Akses menuju permukiman hanya berupa gang sempit selebar dua hingga tiga meter. Rumah-rumah berdiri rapat tanpa jarak, sebagian bahkan menempel langsung ke bibir kali.Tidak sedikit bangunan yang dibangun menjorok di atas aliran air, ditopang tiang-tiang kayu yang tampak rapuh dan sebagian telah keropos.Pengamatan Kompas.com di lokasi menunjukkan bangunan warga berdiri tidak beraturan. Dinding rumah banyak terbuat dari seng, tripleks, dan papan kayu lapuk dengan warna yang memudar.Beberapa bagian dinding tampak berlubang, sementara atap seng menampakkan bekas karat. Ruang terbuka hampir tidak ditemukan. Sirkulasi udara buruk, membuat gang terasa pengap dan lembap.Baca juga: Kaleidoskop 2025: Deretan Pergub Penting yang Dikeluarkan Pramono AnungJemuran pakaian bergelantungan di tali-tali yang ditarik dari satu rumah ke rumah lain, menutup sebagian langit dan mempersempit ruang gerak warga.Di bawah deretan rumah itu, Kali Krukut mengalir lambat. Airnya berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau menyengat. Sampah plastik minuman, sisa makanan, kain bekas, styrofoam, hingga potongan kayu mengapung di permukaan air.Di beberapa titik, sedimentasi terlihat jelas, menandakan penyempitan aliran akibat tumpukan sampah dan bangunan yang berdiri terlalu dekat dengan bibir kali.Pada bagian bawah rumah-rumah yang menjorok ke kali, dinding terlihat bolong dan dipenuhi lumut serta kerak hitam.Sejumlah pipa kecil dari rumah warga tampak langsung membuang air cucian, sisa mandi, hingga limbah kakus ke aliran sungai.Tidak terlihat adanya instalasi pengolahan air limbah atau septic tank yang memadai. Limbah domestik bercampur dengan sampah padat, menciptakan genangan air hitam yang stagnan di beberapa titik.Di salah satu sudut sungai, anak-anak terlihat duduk di tepian kali yang dipenuhi sampah, tanpa alas kaki.Baca juga: Kampung Kumuh Jadi Wisata Unggulan Semarang, Puan Dukung Pengembangan Kampoeng Djadhoel Mereka memainkan botol plastik yang dialirkan dari arah hulu, seolah menjadikan aliran limbah sebagai arena bermain. Aktivitas itu berlangsung hanya beberapa meter dari genangan air yang berbau menyengat.Di sisi lain, sepeda motor diparkir di teras rumah yang sebagian lantainya menjorok tepat di atas aliran kali. Balok penopang teras tampak rapuh dan terlihat ditambal berulang kali, memperlihatkan risiko keselamatan yang mengintai./Lidia Pratama Febrian MCK Langsung ke Kali, Mengungkap Wajah Buram Sanitasi Kebon MelatiMemasuki gang kecil yang lebih dalam, berdiri sebuah toilet umum tiga pintu dengan dinding kayu berwarna merah. Catnya sudah mengelupas. Bagian dalamnya gelap, lantai becek, dan aroma menyengat tercium bahkan dari luar pintu.Pengamatan Kompas.com menunjukkan tidak ada saluran limbah tertutup. Air dari toilet langsung mengalir menuju Kali Krukut.Toilet ini digunakan secara bergantian oleh beberapa kepala keluarga yang tidak memiliki fasilitas MCK di rumah masing-masing.Selain toilet umum, sejumlah warga membuat saluran pembuangan mandiri dari rumah, berupa pipa PVC kecil atau selang fleksibel, yang diarahkan langsung ke aliran air.Limbah mandi, cuci, dan kakus dari rumah-rumah tersebut menyatu dengan aliran sungai yang sama-sama tercemar.Baca juga: Wajah Buram Sanitasi Kebon Melati, Limbah MCK Mengalir ke Kali KrukutSuryadi (43), warga RT 16 RW 14, telah tinggal di kawasan tersebut sejak 2008. Ia mengatakan kondisi sampah dan bau limbah sudah berlangsung lama.“Sudah lama sekali. Dari pertama saya tinggal di sini memang sudah begini,” ujar Suryadi.Ia mengakui sebagian sampah berasal dari aktivitas warga setempat, meski tak jarang ada kiriman dari wilayah hulu.“Tempat sampah ada, tapi jauh dari gang. Jalannya sempit, motor aja susah masuk. Enggak ada petugas angkut yang rutin sampai dalam,” katanya.Suryadi mengaku tidak nyaman hidup di lingkungan yang sempit, lembap, dan berbau.“Enggak nyaman. Baunya kadang kuat sekali, apalagi siang. Tapi mau bagaimana, rumah cuma ini,” ucapnya.Alasan ekonomi membuatnya bertahan.“Kalau ada rezeki pasti mau pindah. Tapi kontrakan mahal. Di sini rumah sendiri walau kecil,” katanya.Masalah air bersih juga kerap muncul, terutama saat musim kemarau.“Air sering kecil. Kadang beli galon. Air sumur bor baunya juga kadang enggak enak,” tuturnya.Baca juga: Atasi BAB Sembarangan, Pemkot Jakut Gencarkan Bangun MCK dan Septic Tank KomunalRohmah (35), warga RT 17 RW 14, mengaku kondisi sampah dan bau sudah menjadi bagian dari keseharian.“Iya, dari dulu sudah begini. Kami sudah terbiasa berdampingan dengan kondisi lingkungan seperti ini,” ujarnya.Namun, ia menyadari kondisi tersebut berisiko, terutama bagi anak-anak.“Anak-anak tetap main di pinggir kali. Kadang khawatir, tapi mau bagaimana lagi,” katanya.Menurut Rohmah, keterbatasan fasilitas menjadi alasan utama warga membuang sampah ke kali.“Tempat sampah jauh dan kecil. Kalau penuh, bingung mau buang ke mana. Kadang terpaksa buang ke kali, apalagi malam,” tuturnya.


(prf/ega)