Mengapa rangkaian kata sederhana bernama pantun mampu bertahan lintas generasi, bahkan hingga diakui dunia sebagai warisan budaya?Sejak tahun 2020, tanggal 17 Desember memiliki arti tersendiri dalam lanskap kebudayaan Indonesia, khususnya bagi masyarakat Melayu yang jejak budayanya tersebar di berbagai wilayah Nusantara dan Asia Tenggara.Pada tanggal inilah, seni pantun ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.Penetapan tersebut dilakukan dalam Sidang ke-15 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage UNESCO yang digelar secara daring dari Paris, Prancis.Pengakuan ini merupakan hasil perjalanan panjang sejak 2017, melalui mekanisme joint nomination antara Indonesia dan Malaysia, yang disertai kajian akademik serta dokumentasi praktik hidup pantun di tengah masyarakat.Lima tahun berselang, pengakuan itu memperoleh makna baru. Pemerintah Indonesia menetapkan 17 Desember sebagai Hari Pantun Nasional melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 163/M/2025.Momentum ini bukan sekadar penanda seremonial, melainkan ajakan untuk kembali menengok satu tradisi lisan yang sederhana, namun sarat makna.Pantun: Lebih dari Sekadar RimaDalam tradisi Melayu, pantun dengan empat barisnya—dua sampiran dan dua isi—bukanlah sekadar permainan bunyi atau hiasan kata. Di dalam strukturnya yang ringkas, pantun menyimpan nilai etika, kecerdasan kolektif, dan cara berpikir masyarakat Nusantara.Sampiran bukan pengantar kosong. Ia memberi ruang jeda bagi imajinasi sebelum makna disampaikan.Di sanalah pantun mengajarkan keseimbangan antara keindahan bahasa dan kedalaman pesan. Nasihat disampaikan tanpa menggurui, kritik dilontarkan tanpa melukai, dan rasa cinta dirayu tanpa kehilangan kesantunan.Pantun menjadi medium komunikasi sosial yang halus sekaligus efektif. Ia melatih kepekaan berbahasa, penalaran simbolik, dan kemampuan menyampaikan pesan secara berlapis—kecakapan literasi yang justru terasa relevan di masa kini.Relevansi Pantun di Zaman Serba CepatHari ini, kita hidup di tengah arus kata-kata yang bergerak sangat cepat. Ujaran diproduksi, dibagikan, lalu dilupakan dalam hitungan detik. Dalam situasi ini, pantun hadir sebagai pengingat bahwa berbicara pun memiliki etika.Pantun menuntut kesabaran dalam memilih kata, ketelitian menjaga rima, dan kecermatan menyusun makna. Ia menawarkan konsep perlambatan—sebuah jeda yang membuat komunikasi lebih bermakna.
(prf/ega)
Merawat Pantun, Merawat Cara Kita Berbahasa
2026-01-12 03:17:01
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 03:32
| 2026-01-12 03:17
| 2026-01-12 02:50
| 2026-01-12 02:48










































