Longsor di Cilacap di Hari Ketiga Pencarian: 11 Jenazah Ditemukan, 12 Warga Masih Hilang

2026-01-12 13:38:59
Longsor di Cilacap di Hari Ketiga Pencarian: 11 Jenazah Ditemukan, 12 Warga Masih Hilang
- Di hari ketiga operasi pencarian, Sabtu , masih ada 12 orang yang hilang dalam bencana tanah longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap.Hingga Sabtu (15/112025) siang pukul 18.00 WIB, tim SAR gabungan untuk operasi pencarian dan pertolongan korban longsor di Desa Cibeunying, kembali menemukan delapan jenazah.Jumlah korban itu termasuk dua potongan tubuh, yang kemudian diidentifikasi milik satu nama, menurut rilis BNPB pada Sabtu.Baca juga: BMKG Beberkan Faktor Pemicu Tanah Longsor di Cilacap: Hujan Berhari-hari hingga Kondisi Atmosfer BasahDengan ditemukannya korban tertimbun ini, maka jumlah korban meninggal dunia dalam peristiwa tanah longsor Cilacap menjadi sebelas jiwa.Rinciannya, dua jenazah ditemukan pada hari pertama , satu jenazah ditemukan pada hari kedua , dan delapan jenazah pada hari ketiga .Menurut BPBD Jawa Tengah pada hari pertama, total keseluruhan korban tanah longsor di Cibeunying, Cilacap mencapai 46 orang dengan 20 orang hilang dan 23 orang selamat.Jadi hingga saat ini, ada 11 jenazah telah ditemukan sementara 12 orang masih hilang.Baca juga: Update Operasi SAR Longsor Cilacap: 8 Jenazah Ditemukan, Pencarian Lanjut di Hari KeempatUsai melaksanakan briefing pagi, tim SAR gabungan yang terdiri dari unsur Basarnas, BPPD, TNI, Polri, dan relawan, langsung turun ke lapangan mulai pukul 7.30 WIB.Di bawah langit mendung, tim SAR gabungan kembali menyisir area terdampak longsor, yang meliputi tiga dusun yaitu Dusun Cibeunying, Cibuyut, dan Tarukahan.Upaya pencarian dilakukan dengan membagi lima wilayah sektor kerja.Misi hari ini adalah pencarian dan pertolongan warga yang dilaporkan hilang setelah terjadinya longsor pada Kamis malam lalu.Hari ini, 520 personel SAR gabungan dikerahkan guna percepatan operasi SAR.Baca juga: Update Longsor Cilacap: Pencarian Dikebut, Material Setebal 8 Meter Jadi KendalaSesuai dengan, perencanaan operasi pada Jumat malam, penambahan alat berat dikerahkan untuk mendukung operasi pada pagi tadi.Tujuh unit eskavator diaktifkan untuk menggali dengan hati-hati titik lokasi yang diduga terdapat korban jiwa di dalamnya.Deputi Bidang Penanganan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Mayjen TNI Budi Irawan pagi ini turut meninjau lokasi terdampak.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-12 12:32