BPBD Update Korban Banjir Sumut: 366 Meninggal, 75 Hilang, dan 20.877 Mengungsi

2026-01-12 23:16:43
BPBD Update Korban Banjir Sumut: 366 Meninggal, 75 Hilang, dan 20.877 Mengungsi
MEDAN, - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengupdate data korban banjir dan longsor yang menerjang 19 kabupaten/kota di Sumatera Utara (Sumut).Berdasarkan data terbaru Rabu pukul 17.00, total korban meninggal menjadi 366 orang."Jumlah korban meninggal 366 jiwa, 75 hilang, terluka 2.284 jiwa dan 20.877 mengungsi," ujar Kabid Informasi dan Komunikasi Publik Diskominfo Sumut, Porman Mahulae, mengutip data dari BPBD Sumut.Baca juga: Perjalanan Kompas.com Salurkan Bantuan ke Tapteng Sumut, Belasan Jam Tembus Jalan Lumpur dan Hujan DerasPorman mengatakan, Kabupaten Tapanuli Tengah merupakan wilayah terparah akibat bencana ini, tercatat sebanyak 131 orang meninggal di sana.Kemudian, hilang 41 orang dan luka-luka 26 orang.Sementara itu, di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), korban meninggal berjumlah 87 orang, 30 orang hilang, dan 2.189 orang luka-luka.Kemudian, di Kota Sibolga, korban meninggal 54 orang, dilaporkan 1 orang hilang, dan 61 orang terluka.Saat ini, tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian korban yang masih hilang.Selain 3 daerah tersebut, banjir dan longsor juga menerjang 16 kabupaten/kota di Sumut lainnya, meliputi Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Bharat, Mandailing Natal, Langkat, Deli Serdang, Nias, Serdang Bedagai, Asahan, Batubara, Nias Utara, dan Nias Selatan.Kemudian, daerah lainnya adalah Kota Padang Sidempuan, Medan, Binjai, dan Tebing Tinggi.Baca juga: Gubernur Bobby Siapkan Lahan untuk 1.000 Hunian Tetap Korban Banjir dan Longsor di SumutGubernur Sumut Bobby Nasution mengakui bahwa percepatan pencarian korban hilang saat ini masih terkendala sulitnya akses alat berat menuju sejumlah daerah terisolasi.Meski demikian, ia memastikan proses pencarian tetap dilakukan.“Ya itu tadi ada daerah terisolasi yang alat berat belum masuk, tapi personel sudah. Tentunya personel tetap melakukan pencarian,” kata Bobby saat ditemui di Jalan Imam Bonjol, Kota Medan, Senin .Menurut Bobby, keterbatasan peralatan berdampak langsung pada lamanya proses pencarian korban di lapangan.“Tapi kan keterbatasan ada. Misalnya, kalau personel saja, butuh lima hari. Tapi kalau alat berat masuk, mungkin hanya butuh waktu dua hari,” tambahnya.Untuk mengatasi kendala tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara terus berupaya membuka akses menuju wilayah terisolasi agar alat berat dapat masuk membantu proses evakuasi.“Ini kemarin dari pemerintah pusat ada tujuh alat berat tambahan. Masih dikirim ke Tapteng karena di sana tinggal yang terisolasi,” ujar Bobby.


(prf/ega)