Sejarah Gladiator, Tontonan yang Menguasai Romawi Kuno Selama 6 Abad

2026-02-01 22:07:59
Sejarah Gladiator, Tontonan yang Menguasai Romawi Kuno Selama 6 Abad
- Jauh sebelum popularitas olahraga bela diri modern mencapai puncaknya, peradaban terbesar di dunia, Romawi Kuno, memiliki bentuk hiburan yang jauh lebih brutal: Pertandingan Gladiator.Tontonan pembantaian massal yang dipentaskan ini bertahan dan dinikmati selama lebih dari enam abad.Baca juga: Apakah Ada Gladiator Perempuan di Kekaisaran Romawi?Dikutip National Geographic Indonesia, pertandingan Gladiator pertama yang diketahui di Roma terjadi pada tahun 264 SM.Michael Huffman, dalam laman The Collector, mencatat bahwa pertarungan tersebut awalnya memiliki konteks ritual.“Saat itu, pertandingan gladiator merupakan bagian dari perayaan pemakaman,” tulis Michael Huffman di laman The Collector.Pada awalnya, hanya sedikit gladiator yang berpartisipasi.Namun, seiring berjalannya waktu, permintaan akan kekerasan spektakuler di Romawi Kuno terus meningkat.Puncaknya terjadi pada masa Kaisar Trajan, setelah menaklukkan Dacia pada 107 Masehi, di mana jumlah gladiator yang berpartisipasi dalam perayaan mungkin telah mencapai ribuan.Pertarungan gladiator pada masa Trajan diiringi dengan eksekusi publik terhadap penjahat dan pembangkang.Bahkan, hewan liar digunakan untuk mengeksekusi tahanan dan bertarung dalam pertunjukan.Beberapa sejarawan memperkirakan bahwa hingga 400.000 orang dan sekitar 1 juta hewan tewas di Colosseum selama 350 tahun penyelenggaraan olahraga berdarah itu.Perkiraan ini belum termasuk darah yang ditumpahkan di ratusan amfiteater lain di seluruh kekaisaran selama enam abad sejarah gladiator.Seiring meningkatnya popularitas, biaya Pertandingan Gladiator juga melambung tinggi.Pada abad keempat Masehi, Kekaisaran Romawi mulai terbebani secara finansial, namun hiburan gladiator terlanjur menjadi cara efektif untuk menghibur massa, sehingga sulit bagi kaisar untuk berhenti mensponsori acara-acara yang boros ini.Meski demikian, beberapa pemikir besar di Romawi Kuno mulai mengkritik tontonan berdarah tersebut.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Dalam pembukaan forum yang berlangsung di Hedley Bull Lecture Theater 3 tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq juga menekankan bahwa pembudayaan Bahasa Indonesia tak lagi hanya menjadi urusan domestik, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi diplomasi yang relevan di tengah perubahan geopolitik kawasan.Ia menyebut bahwa posisi Indonesia dan Australia yang semakin strategis dalam dinamika Indo-Pasifik membuat penguatan bahasa menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.Menurutnya, kedua negara tidak hanya berbagi kedekatan geografis dan hubungan diplomatik yang panjang, tetapi juga berada pada simpul penting ekonomi masa depan.Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Australia sama-sama memiliki peran besar dalam rantai pasok mineral strategis yang menjadi tulang punggung transisi energi dan industri berkelanjutan. Situasi ini menempatkan kerja sama kedua negara bukan semata hubungan bilateral, tetapi bagian dari arsitektur geoekonomi global.Di atas fondasi itulah, bahasa dan pendidikan dipandang sebagai jembatan yang memperkuat kemitraan jangka panjang. Penguasaan Bahasa Indonesia di Australia maupun peningkatan pemahaman budaya di kedua belah pihak diyakini mampu memperluas ruang kolaborasi, mulai dari dunia akademik, industri, hingga diplomasi publik.“Saya hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Abdul Mu’ti dalam acara Kongres Pertama Bahasa Indonesia ini untuk menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat peran Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global melalui diplomasi pendidikan dan kebudayaan,” tegasnya.

| 2026-02-01 22:02