Setengah Abad Berdagang, Fauzy Tetap Bertahan di Pasar Loak Jalan Surabaya yang Sepi

2026-01-12 04:01:54
Setengah Abad Berdagang, Fauzy Tetap Bertahan di Pasar Loak Jalan Surabaya yang Sepi
JAKARTA, - Setiap pagi, Fauzy (77) tiba lebih awal dibandingkan pedagang lain di Pasar Loak Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat.Sekitar pukul 08.00–09.00 WIB, pintu besi kios bernomor 199 miliknya sudah ia buka. Dengan gerakan pelan, ia menyingkirkan debu tipis dari etalase kayu tua yang menyimpan barang-barang antik, saksi bisu perjalanan hidupnya selama lebih dari setengah abad.Fauzy bukan sekadar pedagang barang antik. Ia adalah bagian dari sejarah Jalan Surabaya itu sendiri.Baca juga: Jalan Surabaya, Lorong Waktu Barang Antik yang Bertahan di Tengah Sepinya PembeliSejak pertama kali menginjakkan kaki di Jalan Surabaya pada 1974, ia menyaksikan pasar loak tersebut tumbuh dari deretan lapak berantakan menjadi ruko-ruko tertata yang kini dikenal sebagai salah satu ikon wisata barang antik di Jakarta./LIDIA PRATAMA FEBRIAN Barang-barang Antik di Pasar Loak Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat“Iya, ini memang Pasar Loak Jalan Surabaya,” kata Fauzy saat ditemui Kompas.com di depan kiosnya, Senin .“Kalau dibandingkan pasar loak lain, ini memang lebih tertata karena bentuknya ruko. Tapi dulu belum seperti sekarang, masih gerobok-gerobak,” lanjut dia.Fauzy masih ingat betul bagaimana awal pasar ini berdiri. Saat itu, hanya segelintir orang yang berani membuka lapak.“Awalnya yang berani itu orang-orang tua. Paling cuma tiga atau empat orang di ujung sana. Belum pakai pintu toko,” ujar dia mengenang.Perlahan, jumlah pedagang bertambah. Pemerintah kemudian menata kawasan tersebut menjadi ruko permanen.Kini, terdapat sekitar 202 kios yang seluruhnya berizin resmi dan berada di bawah naungan organisasi pedagang. Pasar ini pun telah bertahan hampir 50 tahun.Bagi Fauzy, Jalan Surabaya bukan sekadar tempat mencari nafkah. Ia adalah rumah kedua, bahkan mungkin rumah utama dalam perjalanan hidupnya sebagai perantau dari Bukittinggi, Sumatera Barat.“Saya orang Bukittinggi. Desa saya sekitar lima kilometer dari Jam Gadang,” kata Fauzy.Sebelum menetap di Jakarta, Fauzy sempat merantau ke Jambi. Ia datang ke Jalan Surabaya tanpa bekal pengetahuan tentang barang antik.Baca juga: Ketika UMR Tak Cukup Hidup Layak, Pekerja Bertahan dari Gaji ke Gaji“Awalnya saya enggak tahu apa-apa soal barang antik. Dulu malah dagang sayur, karena desa saya desa sayur. Semua dipelajari sambil jalan,” tutur dia.Sejak awal, Fauzy tidak pernah mengoleksi barang untuk kepentingan pribadi. Baginya, barang antik adalah komoditas dagang.“Sistemnya jual-beli. Barang biasanya datang dari rumah-rumah orang yang mau pindahan atau yang sudah bosan,” ujar dia.Ketika masa awal berdagang adalah cerita perjuangan, maka tahun-tahun setelahnya adalah masa keemasan.Fauzy mengenang periode akhir 1970-an hingga tahun-tahun berikutnya sebagai puncak keramaian Jalan Surabaya.“Dulu, sekitar tahun 1979-an, pasar ini ramai sekali,” kata dia.Namun, kondisi itu perlahan berubah. Dalam lima tahun terakhir, sepi menjadi kata yang paling sering diucapkan para pedagang.“Sekarang ini pasar sangat sepi. Ini yang paling parah,” ujar Fauzy.Fauzy menyebut pembeli datang tak menentu, bahkan tidak ada penglaris berhari-hari.Baca juga: Sunyi dari Luar, Hidup di Dalam: Munasain Bogor yang Diam-diam Tetap Bernapas/LIDIA PRATAMA FEBRIAN Pengunjung di Pasar Loak Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat pada Senin “Kadang seminggu enggak ada pembeli sama sekali. Bahkan 15 hari bisa enggak laku,” kata dia.


(prf/ega)