ACEH TAMIANG, - Berbagai cara bertahan hidup diterapkan pengungsi Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, saat banjir bandang dan tanah longsor melanda wilayahnya sejak Rabu .Desi (45), misalnya, harus meminum air bah yang berwarna keruh untuk mengobati haus ketika banjir itu belum surut dan bantuan belum tiba.Bahkan, banyak warga memanfaatkannya untuk menyeduh susu anaknya dengan memasak sedikit air tersebut hingga menghangat."Selama banjir itu kami mengonsumsi air sungai. Ada buat susu anak, masak air pakai air ini, karena kami kekurangan air bersih tak sempat bawa barang," kata Desi saat ditemui, Kamis . Ia memahami air tersebut memang kotor.Baca juga: Sri Selamatkan Bayinya, Terjang Banjir Aceh Tamiang Demi Bubur dan TajinNamun, tidak ada pilihan lain daripada kehausan.Terlebih, saat banjir belum surut, kebanyakan dari mereka tidak makan hingga tiga hari."Nggak jernih. Cuma karena anaknya nangis terus, kami ambil air banjir, kami endapkan sebentar, habis itu dikonsumsi. Kami tiga hari nggak makan," bebernya.Tak cuma itu, beberapa masyarakat menunggu bantuan pemerintah./FIKA NURUL ULYA Desi (45) warga Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang menceritakan rumahnya yang hanyut diterjang banjir bandang dan longsor sejak Rabu . Bantuan tersebut biasanya dikirim melalui jalur udara ketika daerah Aceh Tamiang belum dapat dilalui kendaraan darat.Setidaknya, kata Desi, jalur darat sempat terputus selama tiga hari, sebelum lumpur-lumpur yang menutupi jalan akhirnya dibersihkan."Kadang-kadang ada bantuan yang lempar-lempar itu kami tangkap. Jalur terputus selama tiga hari karena longsor, selang berapa hari barulah ada bantuan melalui udara," ucap Desi.Baca juga: Bawa Kehangatan bagi Penyintas Banjir Aceh, Dompet Dhuafa dan Parfi 56 Turun ke Dapur UmumLebih lanjut, Desi berharap pemerintah dapat mendata mereka menjadi penerima hunian tetap (huntap), yang kini tengah diperjuangkan oleh para pembuat kebijakan.Sebab, rumahnya hancur lebur diterjang air bah dari hulu Sungai Kuala Simpang.Air itu membawa kayu-kayu besar, yang kini masih tergolek bercampur lumpur.Adapun anggaran yang disiapkan pemerintah mencapai Rp 30 juta per unit.
(prf/ega)
Cara Desi Bertahan di Banjir Aceh Tamiang: Minum Air Bah yang Dimasak
2026-01-11 20:42:54
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 19:54
| 2026-01-11 19:52
| 2026-01-11 19:41
| 2026-01-11 18:49
| 2026-01-11 18:39










































